Rabu, 17 Oktober 2012

KTI Persalinan dg Lilitan Tali Pusat

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Persalinan adalah proses  dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks. (JNKP-KR, 2008)
Persalinan dan kelahiran merupakan kajadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga. Peranan ibu adalah melahirkan bayinya, sedangkan peran keluarga adalah memberi bantuan dan dukungan pada ibu ketika terjadi proses persalinan. Dalam hal ini peranan petugas kesehatan tidak kalah penting dalam memberikan batuan dan dukungan pada ibu agar seluruh rangkaian proses persalinan berlangsung dengan aman baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkan (Sumarah, Yani dan Nining, 2008; h.1)

read more
Tanda
Nilai
0
1
2
Warna
Biru sampai pucat
Tubuh merah jambu, tungkai biru
Seluruh tubuh kemerahan
Usaha bernafas
Tidak ada
Sesak nafas, tidak teratur
Menangis kuat
Denyut jantung
Tidak ada
< 100 denyut permenit
> 100 denyut permenit
Tonus otot
Lumpuh
Sedikit fleksi anggota tubuh
Gerakan aktif, kuat
Iretabilitas reflek
Nol
Meringis atau bersin
menangis
Parameter
Frekuensi pada fase laten
Frekuensi pada fase aktif
Tekanan darah
Setiap 4 jam
Setiap 4 jam
Suhu badan
Setiap 4 jam
Setiap 4 jam
Nadi
Setiap 30 – 60 menit
Setiap 30 - 60 menit
Denyut jantung janin
Setiap 1 jam
Setiap 30 menit
Kontraksi
Setiap 1 jam
Setiap 30 menit
Pembukaan servik
Setiap 4 jam
Setiap 4 jam
Penurunan
Setiap 4 jam
Setiap 4 jam

Dibawah lajur waktu partograf  terdapat lima lajur kotak dengan tulisan “kontraksi per menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Lama kontraksi uterus dinyatakan dengan kode-kode sebagai berikut :  Titik-titik dikotak yang sesuai untuk Beri garis dikotak atau (diarsir) yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya 20-40 detik  penuh/blok untuk kontraksi yang lamanya > 40 detik

Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap angka kematian Ibu di Indonesia. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortalit: who, when, where and why; Lancet 2006). Sedangkan dalam target MDG’s, salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40,75 pada tahun 1992 (BPS). Perolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan. (Profil Kesehatan Indonesia 2010, h.80)
       Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi morbiditas, mortalitas dan status gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit. (Profil Kesehatan Indonesia 2010; h. 35)
Angka kematian bayi adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2009 sebesar 10,25/1.000 kelahiran hidup,
meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 9,17/1.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 18,59/1.000 kelahiran hidup, sedang terendah adalah di Kab. Demak sebesar 4,42/1.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Jawa Tengah 2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey, dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi & Kesehatan Indonesia (SDKI), maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya. Angka kematian ibu diketahui dari jumlah kematian karena kehamilan, persalinan dan ibu nifas per jumlah kelahiran hidup di wilayah tertentu dalam waktu tertentu. Angka Kematian Ibu mencerminkan resiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh : keadaan sosial ekonomi dan kesehatan menjelang kehamilan, kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, serta tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetric. Penyebab utama kematian ibu bersalin adalah Preeklamsia/eklamsia, perdarahan, penyakit jantung.
Angka kematian ibu di Provinsi Jawa Tengah untuk tahun 2009 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 117,02/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut telah memenuhi target dalam Indikator Indonesia Sehat 2010 sebesar 150/100.000 dan mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2008 sebesar 114,42/100.000 kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Jawa Tengah 2009)
Angka kematian bayi di Kabupaten Demak menurut data tahun 2010 sebanyak 115. Sedangkan jumlah kelahiran hidup tahun 2010 sebanyak 21.216 KH. Jadi IMR Kabupaten Demak pada tahun 2010 adalah sebesar 5,42 perseribu kelahiran hidup (selalu dibawah target Provinsi Jawa Tengah). Penyebab kematian bayi di Kabupaten Demak tahun 2010 adalah BBLR sebesar 43,87% dan Umur bayi meninggal 0-7 hr :70,40%. (Profil Kesehatan Kabupaten Demak Tahun 2010)
Untuk Kabupaten Demak pada tahun 2009 adalah sebesar 143.06 / 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan tahun 2010 mengalami penurunan yang signifikan yaitu sebesar 98,98/100.000 kelahiran hidup. Dengan asumsi bahwa tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetric rendah, maka dapat dikatakan terjadi penurunan angka MMR, yang berarti terjadi peningkatan tingkat derajat kesehatan di Kabupaten Demak. (Profil Kesehatan Kabupaten Demak Tahun 2010)
Sedangkan data yang di dapat dari BPM Ny. Dwi Lestari Demak pada bulan Januari 2011 – September 2011 adalah sebanyak 87 persalinan, dengan persalinan normal sebanyak 58, dan untuk persalinan dengan rujukan sejumlah 29. Dimana persalinan rujukan itu diklasifikasikan yaitu: persalinan dengan KPD sebanyak 14, Persalinan dengan Pre Eklampsi Berat sebanyak 4, persalinan dengan post SC sebanyak 5, serotinus 4, dan persalinan gemeli 2.
Saat persalinan mungkin ada beberapa komplikasi yang akan timbul. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada saat pertolongan persalinan tersebut adalah lilitan tali pusat. Lilitan tali pusat adalah tali pusat yang membentuk lilitan sekitar badan janin, bahu, tungkai atas/ bawah dan leher. Dalam masa kehamilan janin bebas bergerak dalam cairan amnion, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik. Gerakan janin dalam rahim yang aktif pada tali pusat yang panjang besar kemungkinan dapat terjadi lilitan tali pusat. Keadaan ini dijumpai pada air ketuban yang berlebihan, tali pusat yang panjang dan bayinya yang kecil. Tali pusat dapat diketahui lewat pemeriksaan USG, lilitan tali pusat tidak bisa lepas tetapi dipantau dan memberitahu ibu. Sebenarnya lilitan tali pusat tidaklah terlalu membahayakan namun menjadi bahaya ketika memasuki proses persalinan dan terjadi kontraksi rahim (mules) dan kepala janin turun memasuki saluran persalinan. Lilitan tali pusat bisa menjadi semakin erat dan menyebabkan penurunan uteroplasenter, juga menyebabkan penekanan/ kompresi pada pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan ke bayi menjadi terganggu. Lilitan tali pusat dileherpun tidak harus berujung sesar, tapi proses persalinan dipantau ketat pada kala I dan observasi denyut jantung. Bila denyut jantung terganggu, persalinan diakhiri dengan bedah sesar. Karena jika dipaksa lahir dengan normal, bisa berdampak buruk pada janin.
Dari data diatas disimpulkan bahwa kasus persalinan dengan lilitan tali pusat banyak berpengaruh terhadap kelancaran proses persalinan, terutama untuk keselamatan janin, sehingga  perlu mendapatkan penanganan khusus dari petugas kesehatan demi keselamatan ibu dan bayi oleh karena itu penulis tertarik untuk mengambil judul  “Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Normal dengan Lilitan Tali Pusat pada Ny. M di BPM Ny. Dwi Lestari Desa Botorejo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak”.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka Rumusan Masalahnya adalah: “Bagaimana Penerapan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Normal dengan Lilitan Tali Pusat pada Ny. M umur 21 tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 42 minggu di BPM Ny. Dwi Lestari Desa Botorejo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak?”

C.   Tujuan
1.    Tujuan umum
Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan ibu bersalin normal pada Ny.M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny.Dwi Lestari menggunakan manajemen 7 langkah Varney dan mendokumentasikannya.
2.    Tujuan khusus
a.    Mampu melakukan pengkajian pada ibu bersalin normal pada Ny. M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny.Dwi Lestari, Desa Botorejo,  Wonosalam, Kab. Demak.
b.    Mampu menginterpretasi data untuk menentukan diagnosa kebidanan dan diagnosa masalah pada ibu bersalin normal pada Ny.M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny.Dwi Lestari, Wonosalam, Kab. Demak.
c.    Mampu mengidentifasi diagnosa potensial pada Ny.M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny.Dwi Lestari, Wonosalam, Kab.Demak.
d.    Mampu membuat antisipasi segera terhadap masalah yang muncul pada Ny.M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny. Dwi Lestari, Wonosalam, Kab. Demak.
e.    Mampu menyusun intervensi yang sesuai dengan masalah dan kebutuhan yang timbul pada ibu bersalin normal pada Ny.M di BPM Ny.Dwi Lestari, Wonosalam, Kab. Demak.
f.     Mampu melakukan implementasi kebidanan pada ibu bersalin normal pada Ny.M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny.Dwi Lestari, Wonosalam, Kab. Demak.
g.    Mampu mengevaluasi hasil dan perkembangan pada ibu bersalin normal pada Ny.M dengan lilitan tali pusat di BPM Ny. Dwi Lestari, Wonosalam, Kab. Demak.

D.   Ruang Lingkup
1.    Sasaran
Sasaran asuhan kebidanan ibu bersalin normal  dengan lilitan tali pusat yaitu  Ny.M usia 21 tahun G1P0A0.
2.    Tempat
Lokasi pengambilan kasus Persalinan Normal dengan Lilitan Tali pusat ini adalah di BPM Ny. Dwi Lestari Desa Botorejo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak.
3.    Waktu
Waktu pengambilan kasus ini adalah Sabtu 11 Oktober 2011 pukul 05.00 WIB

E.    Manfaat
1.    Manfaat bagi penulis
a.   Dapat menambah pengalaman, pengetahuan serta dapat menerapkan Asuhan Persalinan Normal sesuai dengan wewenang Kepmenkes/369/Menkes/SK/III/2007 dan PerMenkes RI No.1464/MenKes/Per/X/2010 yang dimiliki.
b.   Untuk mengetahui sejauh mana perbedaan dan persamaan antara teori yang di dapat dengan praktek di lahan pada ibu bersalin normal dengan lilitan tali pusat.
2.    Bagi institusi
a.   Diharapkan dapat menambah wacana pustaka
b.   Diharapkan dapat memberi masukan dalam kegiatan pembelajaran terutama tentang asuhan persalinan normal dengan lilitan tali pusat.
3.    Bagi tenaga kesehatan
a.   Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya persalinan normal dengan lilitan tali pusat.
b.   Diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pemahaman tentang persalinan normal dengan lilitan tali pusat.
4.    Bagi masyarakat
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang persalinan normal yang bersih dan aman.





F.    Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah:
1.    Anamnesa
          Anamnesa merupakan metode pengumpulan data dengan cara wawancara langsung responden, metode ini memberikan hasil secara langsung. Metode ini dilakukan apabila ingin mengetahui hal-hal secara mendalam ( A.Aziz Alimul Hidayat, 2010; h.100). Anamnesis dapat dilakukan melalui dua cara:
a.    Auto Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan kepada klien langsung, jadi data yang diperoleh adalah data primer karena langsung dari sumbernya.
b.    Allow Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan kepada keluarga klien dan bidan untuk memperoleh data tentang klien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat. (Ari Sulistyawati dan Esti Nugraheny, 2010 ; h. 220)
2.    Observasi
Yaitu metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung untuk mengamati keadaan umum pasien dan perubahan tingkah laku (Hidayat, 2007; h.99).
Observasi/pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan. Mula-mula rangsangan dari luar indera dan terjadilah penginderaan, kemudian apabila rangsangan tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan (Notoatmodjo, 2005; h.93).
3.    Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. Pemeriksaan fisik harus dilaksanakan secara komprehensif serta meliputi riwayat kesehatan. Data di tulis setelah melaksanakan pemeriksaan fisik yang meliputi keadaan normal maupun abnormal (Notoatmojo,2005; h.37)
4.    Studi pustaka
Buku-buku yang menjadi pedoman yang dibaca untuk memperoleh suatu konsep dasar untuk penulisan ilmiah yang mendukung penulisan laporan pengelolaan kasus (Notoatmodjo, 2005).

G.   Sistematika Penulisan
BAB I (PENDAHULUAN)
Menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II (TINJAUAN PUSTAKA)
Menguraikan tentang teori medis persalinan normal, lilitan tali pusat pada proses persalinan, teori managemen kebidanan menurut Helen Varney, dan landasan hukum bagi bidan yang melaksanakan asuhan kebidanan persalinan dengan lilitan tali pusat.
BAB III (TINJAUAN KASUS)
Memuat keseluruhan asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan. Asuhan Kebidanan ditulis dengan urutan manajemen kebidanan 7 (tujuh) langkah Varney, yaitu mulai Pengumpulan data dasar, Interpretasi data dasar, Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial, Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh/ komprehensif, Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman, sampai mengevaluasi.
BAB IV (BAHASAN)
Berisi tentang persamaan dan kesenjangan antara teori dan praktek atau asuhan yang sudah dilakukan, dan pemberian solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.
BAB V (PENUTUP)
Berisi simpulan dari asuhan yang sudah dilakukan berdasarkan teori dan sekaligus memberikan saran yang rasional sesuai kasus yang diambil. 
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Tinjauan Teori Medis
1. Persalinan Normal
a.   Pengertian persalinan
1)  Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan  / kekuatan sendiri. Proses ini dimulai dengan pembukaan serviks secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sulistyawati, 2010; h.4).
2)  Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi dari rahim ibu melalui jalan lahir atau dengan jalan lain yang kemudian janin dapat hidup keluar dunia (Rohani dan Marisah, 2011; h.3).
b.   Pengertian persalinan normal
a)  Persalinan normal atau partus spontan adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Prawiroharjo, 2006; h.37).
b)  Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin (Syaifudin, 2006; h.100).
c)  Persalinan normal adalah bila bayi lahir dengan presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam (Wiknjosastro, 2002; h. 180)
d)  Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam tanpa komplikasi baik bagi ibu maupun janin. (Sarwono, 2002).
c.   Jenis-jenis persalinan
a)  Partus Imaturus
Persalinan yang terjadi dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu dan lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 1000-1500 gram.
b)  Abortus
Terhentinya dan dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan. Umur kehamilan sebelum 20 minggu dengan berat janin kurang dari 1000 gram.
c)  Persalinan Prematuritas
Persalinan sebelum umur kehamilan 28-36 minggu dan berat janin kurang dari 2499 gram.


d)  Persalinan Aterm
Persalinan antara umur kehamilan 37-42 minggu dan berat janin diatas 2500 gram.
e)  Persalinan Serotinus
Persalinan melampaui umur kehamilan 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas.
f)   Persalinan Presipitatus
Persalinan berlangsung cepat kurang dari 3 jam.(Prawiroharjo, 2006; h.180)
d.   Persalinan Berdasarkan teknik
a)  Persalinan spontan, yaitu persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.
b)  Persalinan buatan yaitu Persalinan dengan tenaga dari luar dengan ekstraksi forsep, ekstraksi vakum dan section sesaria.
c)  Persalinan anjuran yaitu Persalinan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin aprostaglandin.
e.   Sebab-sebab mulainya persalinan
a)  Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas tertentu tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat di mulai. Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang menyebabkan iskemia otot-otot uterus. Hal ini dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi.
b)  Teori penurunan progesterone
Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Villi koriales mengalami perubahan produksi progesterone mulai menurun, sehingga otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan  progesterone tertentu.
c)  Teori oksitosin internal
Oksitosin dikeluarkan oleh kelanjar hipofise parts posterior. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah sensivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi brakton hicks. Menurunnya konsentrasi progesterone akibat taunya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dimulai.
d)  Teori prostaglandin
Prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan. Prostaglandin dianggap sebagai pemicu persalinan.
e)  Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis
Teori ini menunjukan adanya kehamilan anensefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Pemberian kortikosteroid dapat memicu adanya persalinan, sehingga hipotalamus sangat berperan dalam persalinan.
f)   Teori berkurangnya nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin yang dikemukakan Hippokrates untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka konsepsi akan keluar.
g)  Tekanan pada gangguan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser yang terletak di bidang serviks. Bila ganglion ini tertekan, maka kontraksi uterus dapat dibangkitkan. (Sumarah, 2008; h.3-4)
f.    Tanda-Tanda Adanya Persalinan
a)  Tanda-tanda persalinan sudah dekat    (sumber)
a)  Lightening
Pada minggu ke-36 pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk PAP yang disebabkan oleh :
(1) Kontraksi Braxton Hicks
(2) Ketegangan otot perut
(3) Ketegangan ligamentum rotundum
(4) Gaya berat janin kepala ke arah bawah
b)  Terjadinya His Permulaan
Dengan makin tua pada usia kehamilan, pengeluaran estrogen dan progesteron semakin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi, yang lebih sering sebagai his palsu.
Sifat his palsu :
(1) Rasa nyeri ringan di bagian bawah
(2) Datangnya tidak teratur
(3) Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
(4) Durasinya pendek
(5) Tidak bertambah jika beraktifitas
b)  Tanda-tanda masuk dalam persalinan
a)  Terjadinya his persalinan
His persalinan mempunyai sifat:
(1)Pinggang terasa sakit, yang menjalar ke depan
(2)Sifatnya teratur, intervalnya makin pendek dan kekuatannya semakin besar
(3)Kontraksi uterus menyebabkan perubahan serviks
(4)Makin beraktifitas (jalan), kekuatan makin bertambah
b)  Bloody show (pengeluaran lendir disertai darah melalui vagina)
Dengan his permulaan, terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan pendataran dan pembukaan. Lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas, kapiler pembuluh darah pecah yang menyebabkan sedikit perdarahan.
c)  Pengeluaran cairan
Keluar banyak cairan dari jalan lahir. Ini terjadi akibat pecahnya ketuban atau selaput ketuban robek. Sebagian besar ketuban pecah menjelang pembukaan lengkap tetapi kadang ketuban pecah pada pembukaan kecil. Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam.
g.   Tahapan Persalinan
a)  Kala I (Pembukaan)
Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan 0-10 cm (pembukaan lengkap). Pasien dikatakan dalam tahap persalinan kala I, jika sudah terjadi pembukaan serviks dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 20 detik.  proses ini dibagi menjadi dua fase, yaitu fase laten (8 jam) dimana serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) dimana serviks membuka dari 3-10 cm. lama kala I untuk primigarvida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm per jam dan pembukaan multigravida 2 cm per jam.
b)  Kala II (Pengeluaran Bayi)
Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Diagnosa persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap dan kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm


c)  Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut:
a)  Uterus menjadi berbentuk bundar
b)  Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim
c)  Tali pusat bertambah panjang
d)  Terjadi perdarahan
d)  Kala IV (Observasi)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta selama 1-2 jam. Pada Kala IV dilakukan observasi terhadap perdarahan pascapersalinan, paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a)  Tingkat kesadaran pasien.
b)  Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, dan pernafasan.
c)  Kontraksi uterus.
d)  Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400-500 cc. (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h.7-9)


h.   Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Persalinan
a)  Faktor Power
Power adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang mendorong janin keluar dalam persalinan ialah : his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerjasama yang baik dan sempurna.
a)  His (kontraksi uterus)
His adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja baik dan sempurna dengan sifat-sifat : kontraksi simetris, fundus dominan, kemudian diikuti relaksasi. Pada saat kontraksi otot-otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil  mendorong janin dan kantong amnion kearah bawah rahim dan servik.
Sifat-sifat lainnya dari his adalah : involuntir, intermiten, terasa sakit, terkoordinasi dan simetris yang kadang-kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisis, chemis dan psikis. Dalam melakukan observasi pada ibu bersalin, hal-hal yang harus diperhatikan dari his adalah :
(1)    Frekuensi his : adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit atau per 10 menit.
(2)    Intensitas his : adalah kekuatan his (adekuat atau lemah).
(3)    Durasi (lama his) : adalah lamanya setiap his berlangsung dan ditentukan dengan detik, misalnya 50 detik.
(4)    Interval his : adalah jarak antara his satu dengan his lainnya, misalnya his dating tiap 2-3 menit.
(5)    Datangnya his : apakah sering, teratur atau tidak.
Kelainan kontraksi otot rahim (his)
(1)    Inersia uteri: his yang sifatnya lemah, pendek, dan jarang.  Terdapat 2 macam inertia uteri yaitu:
(a)  Inersia uteri primer : his yang sejak semula kekuatanya sudah lemah
(b)  Inersia uteri sekunder : his pernah cukup kuat, tapi kemudian melemah.
(2)    Tetania uteri : his yang terlalu kuat dan terlalu sering sehingga otot rahim tidak mempunyai kesempatan untuk relaksasi.  Bila terjadi tetania uteri akan menyebabkan:
(a)  Persalinan presipitatus: persalinan yang berlangsung dalam waktu 3 jam.
(b)  Asfiksia intra uterin sampai kematian janin dalam rahim.
Perubahan – perubahan akibat his :
(1)    Pada uterus dan servik : Uterus teraba keras/padat karena kontraksi. Servik tidak mempunyai otot-otot yang banyak, sehingga setiap muncul his maka terjadi pendataran (effacement) dan pembukaan (dilatasi) dari servik.
(2)    Pada ibu : rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim, terdapat pula kenaikan nadi dan tekanan darah.
(3)    Pada janin : Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero plasenter kurang sehingga timbul hipoksia janin. Denyut jantung janin melemah dan kurang jelas didengar karena adanya iskemia fisiologis. Kalau betul-betul hipoksia yang agak lama, misalnya pada kontraksi tetanik, maka terjadi gawat janin asfiksia dengan denyut jantung janin diatas 160 permenit dan tidak teratur.
Pembagian his dan sifat-sifatnya :
(1)    His pendahuluan : his tidak kuat dan tidak teratur namun menyebabkan keluarnya bloody show.
(2)    His pembukaan (Kala I) : menyebabkan pembukaan serviks, semakin kuat, teratur dan sakit.
(3)    His pengeluaran (Kala II)  : Untuk mengeluarkan janin, sangat kuat, simetris, terkoordinir dan lama, koordinasi bersama antara kontraksi otot perut, diafragma dan ligament.
(4)    His pelepasan uri (Kala III) : kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta.
(5)    His pengiring (Kala IV) : kontraksi lemah, masih sedikit nyeri (merian), terjadi pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari.
b)  Tenaga mengejan
Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intra abdominal. Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita buang air besar tapi jauh lebih kuat lagi.
b)  Faktor Passanger
a)    Janin
Pembahasan mengenai janin sebagai passenger sebagian besar adalah mengenai ukuran kepala janin, karena kepala adalah bagian terbesar dari janin dan paling sulit untuk dilahirkan.
Tulang-tulang penyusun kepala janin:
(1)    Dua buah os parietalis,
(2)    Satu buah os oksipitalis,
(3)    Dua buah os frontalis.
Terdapat dua fontanel (ubun-ubun) antara lain:
(1)    Fontanel minor (ubun-ubun kecil)
(a) Berbentuk segitiga
(b) Terdapat di sutura sagitalis superior bersilang dengan sutura lambdoidea
(c) Sebagai penyebut (penunjuk presentasi kepala) dalam persalinan, yang diketahui melalui pemeriksaan dalam (vagina touche). Pada saat tangan pemeriksa meraba kepala janin, ketika terasa adanya cekungan yang berbentuk segitiga,itulah ubun-ubun kecil.
(2)    Fontanel mayor (ubun-ubun besar/bregma)
(a) Berbentuk segi empat panjang
(b) Terdapat di sutura sagitalis superior dan sutura frontalis bersilang dengan sutura koronaria.
b)    Moulage (Molase) Kepala Janin
Adanya celah antara bagian-bagian tulang kepala janin memungkinkan adanya penyusupan antar bagian tulang (overlapping) sehingga kepala janin dapat mengalami perubahan bentuk dan ukuran, proses ini yang disebut molase.
c)    Hubungan janin dengan jalan lahir
(1)    Sikap (Habitus)
Sikap janin menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan sumbu lain, biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya dalam sikap fleksi dimana kepala, tulang punggung dan kaki dalam keadaan fleksi, lengan bersilang di dada.
(2)    Letak (Situs)
Letak janin adalah bagaimana sumbu janin berada terdapat sumbu ibu misalnya :
(a) Letak lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu.
(b) Letak membujur dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu, ini bisa letak kepala atau letak sungsang.
(3)    Presentasi
Presentasi dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah rahim yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. Misalnya presentasi kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan lain-lain.
(4)    Posisi janin
Bagian terbawah digunakan untuk indikator atau menetapkan arah bagian terbawah janin apakah sebelah kanan, kiri, depan atau belakang terhadap sumbu ibu (maternal-pelvis). Misalnya pada letak belakang kepala (LBK) ubun-ubun kecil (UUK) kiri depan, uuk kanan belakang.
d)    Plasenta
(1)    Struktur Plasenta:
(a) Berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2-2,5 cm.
(b) Berat rata-rata 500 gram.
(c) Letak plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus.
(d) Terdiri dari dua bagian,yaitu:
                                                    i.       Pars maternal, bagian plasenta yang menempel pada desidua, terdapat kotiledon (rata-rata 20 kotriledon). Dibagian ini tempat terjadinya pertukaran darah ibu dan janin.
                                                   ii.       Pars fetal, terdapat tali pusat (insersio/penanaman tali pusat)
-      Insersio sentralis: penanaman tali pusat di tengah plasenta
-      Insersio marginalis: penanaman tali pusat di pinggir plasenta
-      Insersio valementosa: penanaman tali pusat di selaput janin/selaput amnion.
(2)    Fungsi Plasenta:
(a)    Memberi makan kepada janin
(b)    Ekskresi hormon
(c)    Respirasi janin: tempat pertukaran O2 dan CO2 antara janin dan ibu
(d)    Membentuk hormon estrogen
(e)    Menyalurkan berbagai antibody dari ibu
(f)     Sebagai barier (penghalang) terhadap janin dari kemungkinan masuknya mikroorganisme/kuman.
e)    Tali Pusat
Tali pusat merupakan bagian yang sangat penting untuk kelangsungan hidup janin meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa tali pusat juga dapat menyebabkan penyulit persalinan, misalnya pada kasus lilitan tali pusat.
(1)    Struktur tali pusat.
(a)    Terdiri dari dua arteri umbulikalis dan satu vena umbilikalis.
(b)    Bagian luar tali pusat berasal dari lapisan amnion
(c)    Di dalamnya terdapat jaringan lembek yang dinamakan selai warthon. Selai warthon berfungsi melindungi dua arteri dan satu vena umbilikalis yang berada dalam tali pusat.
(d)    Panjang rata-rata 50 cm.
(2)    Fungsi tali pusat
(a)    Nutrisi dan oksigen dari plasenta ke tubuh janin
(b)    Pengeluaran sisa metabolisme janin ke tubuh  ibu
(c)    Zat antibody dari ibu ke janin
(3)    Sirkulasi tali pusat
(a)    Dua arteri dan satu vena yang berada dalam tali pusat menghubungkan system kardiovaskuler janin dengan plasenta
(b)    Pada beberapa kasus dilaporkan adanya bentuk tali pusat yang tidak normal, misalnya terlalu kecil dan terpilin, tersimpul terlalu besar, terlalu panjang, terlalu pendek, dll.
Bentuk tali pusat yang normal adalah silinder bulat dengan diameter rata-rata 1-1,5 cm, namun kadang ditemukan kelainan bentuk yang menyerupai simpul. Simpul ada yang berupa simpul palsu dan simpul sungguhan. Adanya simpul pada tali pusat dengan jumlah yang banyak dan lilitan yang erat dapat menyebabkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi kepada janin, sehingga menyebabkan berat badan bayi kurang dari normal.
f)   Air Ketuban
Air ketuban merupakan elemen penting dalam proses persalinan. Air ketuban ini dapat dijadikan acuan dalam menentukan diagnose kesejahteraan janin. Beberapa aspek penting yang perlu diketahui adalah sebagai berikut.
Struktur Amnion:
(1) Volume pada kehamilan cukup bulan kira-kira 500-1000 cc
(2) Berwarna putih keruh, berbau amis dan terasa manis. Warna keruh sampai hijau pada proses persalinan mengindikasikan adanya kondisi janin yang tidak sejahtera, sehingga membutuhkan tindakan khusus untuk bayi yang dilahirkan.
(3) Reaksinya agak alkalis sampai netral dengan berat jenis 1,008
(4) Komposisinya terdiri atas 98% air dan sisanya albumin, urea, asam uric, kreatinin, sel-sel epitel, lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik. Kadar protein 2,6% gram/liter.
Fungsi Amnion:
(1) Melindungi janin dari trauma/benturan
(2) Memungkinkan janin bergerak bebas
(3) Menstabilkan suhu tubuh janin agar tetap hangat
(4) Menahan tekanan uterus
(5) Pembersih jalan lahir


c)  Faktor Passage (Jalan lahir)
a)  Bagian Keras Panggul
a.   Bidang-bidang panggul
(a)  Bidang Hodge I            : jarak antara promontorium dan pinggir atas simfisis, sejajar dengan PAP
(b)  Bidang Hodge II           : sejajar dengan PAP, melewati pinggir bawah simfisis
(c)  Bidang Hodge III          : sejajar dengan PAP melewati Spina ischiadika
(d)  Bidang Hodge IV         : sejajar dengan PAP, melewati ujung coccygeus

                                
Gambar 1. Bidang Hodge

b.   Ukuran-ukuran panggul
(a)  DS     : Distansia spinarum, yaitu jarak antara kedua spina iliaka anterior superior (24-26 cm)
(b)  DC    : Distansia Cristarum, yaitu jarak antara kedua crista iliaka kanan dan kiri (28-30 cm)
(c)  CE      :  Conjugata Eksterna 18-20 cm
(d)  CD      : Conjugata Diagonalis, dengan periksa dalam 12,5 cm
(e)  DT   : Distansia Tuderum, dengan menggunakan jangka Oseander (10,5 cm).
c.  Jenis panggul
Berdasarkan pada ciri-ciri bentuk PAP, ada 4 bentuk dasar panggul (menurut Caldwell dan Moloy, 1993)
(a)    Ginekoid   : Paling ideal, bulat 45%
(b)    Android    : Panggul pria, segitiga 15%
(c)    Antropoid : Agak lonjong seperti telur 35%
(d)    Latipeloid : Picak, menyempit arah muka belakang   

                    
                                         Gambar 2. Bentuk Panggul
                             (Yanti, 2010; h. 21-33)

i.    Mekanisme Persalinan Normal
Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah sebagai berikut:
a)  Penurunan kepala
       Pada primigravida masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya sudah terjadi sejak bulan terakhir dari kehamilan ,tetapi pada multigravida biasanya baru terjadi  pada permulaan persalinan. Masuknya kepala ke dalam PAP ,biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi ringan. Masuknya kepala melewati pintu atas panggul (PAP) dapat dalam keadaan asinklitismus yaitu pada sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat di antara simfisis dan promontorium.
       Pada sinklitismus, os paretal depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati simfisis atau agak ke belakang mendekati promontorium,maka dikatakan kepala dalam keadaan asinklitismus ,ada dua jenis asinklitismus yaitu sebagai berikut.
a)    Asinklitismus posterior : bila sutura sagitalis mendekati simfisis dan os paretal belakang lebih rendah dari os parental depan.
b)    Asinklitismus anterior : bila sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os paretal depan lebih rendah dari os paretal belakang.
Pada derajat sedang asinklitismus pasti terjadi pada persalinan normal, tetapi bila berat  gerakan ini dapat menimbulkan disporposi sepalopelvis dengan panggul yang berukuran normal sekalipun.
            Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan kala II persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi dari segmen atas rahim ,yang menyebabkan tekanan langsung fundus pada bokong janin. Dalam waktu yang bersamaan terjadinya relaksasi dari segmen bawah rahim sehingga terjadi penipisan dan dilatasi serviks. Keadaan ini menyebabkan bayi terdorong ke dalam jalan lahir. Penurunan kepala ini juga disebabkan karena cairan intrauterin, kekuatan meneran, atau adanya kontraksi otot-otot abdomen dan melurusnya badan anak. (Rohani, Reni, Marisah,2011; h.146)
b)  Penguncian (Engagement)
       Tahap penurunan kepala pada waktu diameter bipariental dari kepala janin telah melalui lubang masuk panggul ibu (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h.110).
c)  Fleksi
                        Pada awal persalinan ,kepala bayi dalam keadaan fleksi yang ringan. Dengan majunya kepala biasanya fleksi juga bertambah. Pada pergerakan ini,dagu dibawa lebih dekat ke arah dada janin sehingga ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar. Hal ini disebabkan karena adanya tahanan dari dinding serviks,dinding pelvis,dan lantai pelvis. Dengan adanya fleksi ,diameter suboccipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis (11 cm). Sampai di dasar panggul,biasanya kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal.
                        Ada  teori yang menjelaskan mengapa fleksi bisa terjadi. Fleksi ini disebabkan karena anak di dorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari serviks,dinding panggul, atau dasar panggul. Akibat dari keadaan ini maka terjadilah fleksi. (Rohani, Reni, Marisah, 2011.h.147)
d)  Rotasi dalam (putaran paksi dalam)
                            Putaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin memutar ke depan ke bawah simfisis. Pada presentasi belakang kepala,bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang memutar ke depan ke arah simfisis. Rotasi dalam penting untuk menyelesaikan persalinan kerna merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bidang tengah dan bawah panggul (Rohani, Reni, Marisah, 2011.h.148).
e)  Ekstensi
                            Sesudah kepala janin sampai didasar pinggul dan ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis,maka terjadilah ekstensi dari kepala janin. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala harus ,mengadakan fleksi untuk melewatinya. Jika kepala fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak melakukan ekstensi,maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat menembusnya.
                            Suboksiput yang tertahan pada pingggir bawah simfisis akan menjadi pusat pemutaran (hypmochlion),maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum : ubun-ubun besar,dahi,hidung,mulut,dan dagu bayi dengan gerakan ekstensi. (Rohani, Reni, Marisah, 2011.h.148)
f)   Rotasi Luar (putaran paksi luar)
                            Kepala yang sudah lahir selanjutnya mengalami restitusi yaitu kepala bayi memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam. Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring. Di dalam rongga panggul, bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang di laluinya sehingga di dasar panggul setelah kepala bayi lahir, bahu mengalami putaran dalam dimana ukuran bahu (diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul. Bersamaan dengan itu kepala bayi juga melanjutkan putaran hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber iskiadikum sepihak (Rohani, Reni, Marisah, 2011; h.148)
g)  Ekspulsi
                            Setelah putaran paksi luar, bahu depan di bawah simfisis dan menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Setelah kedua bahu bayi lahir, selanjutnya seluruh badan bayi dilahirkan searah dengan sumbu jalan lahir. Dengan kontraksi yang efektif, fleksi kepala yang adekuat, dan janin dengan ukuran rata-rata, sebagian besar oksiput yang posisinya posterior berputar cepat segera setelah mencapai dasar panggul sehingga persalinan tidak bertambah  panjang. Akan tetapi, pada kira-kira 5-10 % kasus, keadaan yang menguntungkan ini tidak terjadi. Sebagai contoh kontraksi yang buruk atau fleksi kepala yang salah satu atau keduanya, rotasi mungkin tidak sempurna atau mungkin tidak terjadi sama sekali, khususnya kalau janin besar (Rohani, Reni, Marisah, 2011; h.150).
j.    Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam adalah pemeriksaan genitalia bagian dalam mulai dari vagina sampai serviks menggunakan dua jari, yang salah satu tekhniknya adalah dengan menggunakan skala ukuran jari (lebar satu jari berarti 1 cm) untuk menentukan diameter dilatasi serviks (pembukaan serviks/portio)
Pemeriksaan dalam dilakukan untuk menilai:
1)  Vagina (terutama dindingnya), apakah ada bagian yang menyempil
2)  Keadaan serta pembukaan serviks
3)  Kapasitas panggul
4)  Ada atau tidaknya tumor pada jalan lahir
5)  Sifat flour albus dan apakah ada alat yang sakit, misalnya bartholinitis
6)  Pecah tidaknya selaput ketuban
7)  Presentasi janin
8)  Turunnya kepala dalam panggul
9)  Penilaian besarnya kepala terhadap panggul
10)   Apakah proses persalinan telah dimulai serta kemajuan persalinan
Pemeriksaan dalam kontra indikasi dilakukan jika terdapat perdarahan pervaginam, karena kemungkinan terjadi plasenta previa atau solusio plasenta. (Sulistyawati dan Nugraheni, 2010; h. 73-74)
Jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm, berarti ibu masih dalam fase laten kala I persalinan dan perlu panilaian ulang 4 jam kemudian. Jika pembukaan telah mencapai atau lebih dari 4 cm maka ibu dalam fase aktif kala I persalinan sehingga perlu dimulai pemantauan kamajuan persalinan dengan partograf. (Rukiyah, dkk.2009; h.76)
k.   Penatalaksanaan Persalinan Sesuai Standar APN
a)  58 Langkah Asuhan Persalinan Normal:
a)   Mengenali Gejala dan Tanda Kala II
(1)    Mengenali dan melihat adanya tanda persalinan kala II yang dilakukan adalah: tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda :
(a)    Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
(b)    Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vaginanya.
(c)    Perineum menonjol.
(d)    Vulva vagina dan sfingter ani membuka.

b)  Menyiapkan Pertolongan Persalinan
Memastikan perlengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk resusitasi:  tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat, 3 handuk atau kain bersih dan kering, alat penghisap lendir, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm diatas tubuh bayi.
-       Menggelar kain diatas perut ibu. Dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi.
-       Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
(2)    Pakai celemek plastik yang bersih.
(3)    Melepaskan dan menyimpan semua periasan yang dipakai, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan  tangan dengan handuk pribadi yang kering dan bersih.
(4)    Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk pemeriksaan dalam.
(5)    Masukan  oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan disinfeksi  tinggkat tinggi atau steril.


c)  Memastikan Pembukaan Lengkap dan Keadaan Janin Bayi.
(6) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah di basahi air disinfeksi tingkat tinggi.
(a)  Jika Introitus vagina, perineum, atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan kasa dari arah depan ke belakang.
(b)  Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia.
(c)  Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5 % → langkah 9.
(7) Lakukan Periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap
-        Bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.
(8) Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan korin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
(9) Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal.

d)  Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu proses pimpinan meneran.
(10) Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik,   membantu ibu dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
(11) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk  meneran ( pada saat adanya his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan dia merasa   nyaman ).
(12) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk    meneran.
(13) Ajarkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
e)  Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi
(14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm meletakan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
(15) Meletakan kain yang bersih di lipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
(16) Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
(17) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

f)   Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi.
(18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakan tangan yang lain di kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala, menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan saat kepala lahir.
(19) Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika terjadi lilitan tali pusat.
(a)    Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.
(b)    Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat didua tempat dan potong diantara kedua klem tersebut.
(20) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan. Lahirnya bahu
(21) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tepatkan ke dua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya, dengan lembut menariknya kearah bawah dan kearah luar sehingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah luar untuk melahirkan bahu posterior. Lahirnya badan dan tungkai
(22) Setelah kedua bahu di lahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ketangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan tangan bagian bawah saat menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior saat bayi keduanya lahir.
(23) Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas ( anterior ) dari punggung kearah kaki bayi untuk menyangga saat punggung  dan kaki lahir memegang kedua mata kaki bayi dan dengan hati – hati membantu kelahiran kaki.
g)  Penanganan Bayi Baru Lahir
(24) Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakan bayi diatas perut ibu di posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakan bayi di tempat yang memungkinkan).
(25) Segera mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Biarkan bayi diatas perut ibu.
(26) Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal).
(27) Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik.
(28) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntukan oksitosin 10 unit IM (Intara muskuler) 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
(29) Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat  bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem dari arah bayi dan memasang klem ke dua  2 cm dari klem pertama ke arah ibu.
(30) Pemotongan dan pengikatan tali pusat
(a)    Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan penguntungan tali pusat diantara dua klem tersebut.
(b)    Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
(c)    Lepaskan klem dan masukan dalam wadah yang telah disediakan.
(31) Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi. Letakkan bayi tengkurap didada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada/perut ibu. Usahan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.
(32) Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi dikepala bayi.
h)  Penatalaksanaan Aktif  Persalinan Kala III
(33) Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva.
(34) Meletakan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat diatas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus, memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
(35) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang – atas ( dorso – kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur diatas.
-          Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu.
(36) Lakukan peneganganan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir, (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)
(a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
(b)    Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat:
-          Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
-          Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh.
-          Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
-          Ulangi penegangna tali pusat 15 menit berikutnya.
-          Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta manual.
(37) Saat plasenta terlihat di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan menggunakan ke dua tangan, pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilih kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.
(a)    Jika selaput ketuban robek, pakia sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
(b)    Rangsangan Taktil (Masase) Uterus.
(38) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan Masase uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi ( Fundus menjadi keras).
-        Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase.
i)    Menilai Perdarahan
(39) Memeriksa kedua sisi placenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukan plesenta kedalam kantung plastik atau tempat khusus.
(40) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera   menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
-        Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif segera lakukan penjahitan.
j)    Melakukan Prosedur Paska Persalinan
(41) Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi  perdarahan pervaginam.
(42) Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
(a)    Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit bayi cukup menyusu dari satu payudara.
(b)    Biarkan bayi berada didada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu.
(43) Setelah 1 jam, lakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir, beri antibiotika salep mata pencegahan, dan vit K 1 mg IM di paha kiri anterolateral.
(44) Setelah 1 jam pemberian vit K berikan suntikan imunisasi hepatitis B di paha kanan anterolateral. Letakan bayi didalam jangkawan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan. Letakan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.
k)  Evaluasi
(45) Lakukan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
(a)    2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
(b)    Setiap 15 menit pada 1 jam pertama paska persalinan.
(c)    Setiap 20-30 menit pada jam kedua paska persalinan
(d)    Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksanaan atonia uteri.
(46) Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
(47) Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
(48) Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama paska persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua paska persalinan.
(a)  Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama paska persalinan.
(b)  Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
(49) Periksa kembali bayi dan pantau setiap 15 menit untuk pastikan bahwa bayi bernapas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5-37,5 0C).
(a)    Jika bayi sulit bernapas, merintih atau retraksi, diresusitasi dan segera merujuk kerumah sakit.
(b)    Jika bayi napas terlalu cepat, segera dirujuk.
(c)    Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Kembalikan bayi kulit kekulit dengan ibunya dan selimuti ibu dan bayi dengan satu selimut.
l)    Kebersihan Dan keamanan
(50) Tempatkan semua peralatan dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit), mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi.
(51) Buang bahan – bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
(52) Bersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Bersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu untuk memakai pakaian yang bersih dan kering.
(53) Pastikan bahwa ibu nyaman, membantu ibu memberikan ASI, menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
(54) Dekontaminasi tempat bersalin dengan klorin 0,5% .
(55) Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% membalikan bagian sarung tangan dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
(56) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air yang  mengalir.
m) Pendokumentasian
(57) Lengkapi patograf (Halaman depan dan belakang, periksa tanda vital dan asuhan kala IV). ( APN 2008)
l.    Perbaikan Robekan Vagina/Perineum
Tujuan menjahit laserasi atau episiotomy adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostatis). Depkes RI 2007.
Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan :
1)      Robekan tingkay I yang mengenai mukosa vagina dan jaringan ikat.
2)      Robekan tingkat II mengenai alat-alat dibawahnya.
3)      Robekan tingkat III mengenai sfringter ani.
4)      Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum. (Saifuddin, 2002; hP-.47)


Gambar 3. Laserasi Perineum

a)    Perbaikan Robekan
a.   Perbaikan robekan tingkat I dan II
Umumnya robekan tingkat I dapat sembuh sendiri, tidak perlu dijahit.
(a)    Kaji ulang prinsip dasar perawatan.
(b)    Berikan dukungan emosional.
(c)    Pastikan tidak ada alergi terhadap lignokain atau obat-obatan sejenis.
(d)    Periksa vagina, perineum, dan serviks.
(e)    Jika robekan panjang dan dalam, periksa apakah robekan itu tingkat III atau IV.
(f)     Masukkan jari yang bersarung tangan ke anus.
(g)    Identifikasi tonus dari sfingter.
(h)    Rasakan tonus dari sfingter.
(i)     Ganti sarung tangan.
(j)     Jika sfingter kena, lihat reparasi robekan tingkat III atau IV.
(k)    Jika sfingter utuh teruskan reparasi.
(l)     Antisepsis di daerah robekan.
(m)  Masukkan jarum pada ujung atau pojok laserasi atau luka dan dorong masuk sepanjang luka mengikuti garis tempat asikan djarum jahitnya akan masuk atau keluar.
(n)    Aspirasikan dan kemudian suntikkan sekitar 10 ml lignokain 0,5 % di bawah mukosa vagina, di bawah kulit perineum, dan pada otot-otot perineum.
Catatan : Aspirasi untuk meyakinkan suntikkan lignokain tidak masuk dalam pembuluh darah. Jika ada darah pada aspirasi, pindahkan jarum ketempat lain. Aspirasi kembali. Kejang dan kematian dapat terjadi jika lignokain di berikan lewat pembuluh darah.
(o)    Tunggu 2 menit agar anestesi efektif.
b.   Robekan tingkat III dan IV
Jika robekan tingkat III tidak diperbaiki dengan baik, pasien dapat menderita gangguan defekasi dan flatus. Jika robekan rektum tidak diperbaiki dapat terjadi infeksi dan fistula rektovaginal:
 (Saifuddin, 2002; h.P-47 – P-50)



c.   Metode Penjahitan
(a)    Jahitan  terkunci kontinyu
Digunakan untuk menutup mukosa vagina. Setelah menempatkan satu jahitan dan simpul pertama yang merupakan pengaman (satu ujung benang pada simpul dipotong pendek, ujung lainnya dilanjutkan untuk jahitan benang).
(b)    Jahitan  putus-putus
Digunakan untuk memperbaiki otot dalam. Jahitan terputus-putus adalah jahitan tunggal dengan satu satu simpul (kedua ujung dipotong pendek). Jahitan ini di angkat dari kanan ke kiri dengan titik masuk dan keluar langsung menyilang satu sama lain.
(c)    Jahitan  kontinyu
Digunakan untuk menutup lapisan subkutaneus. Jahitan kontinyu tepat separti jahitan selubung kecuali bahwa jahitan kontinyu bukan suatu jahitan terkunci. Oleh karena itu, daripada mempertahankan jahitan sepanjang sisi kiri garis insisi, tahan ke atas sepanjang sisi jahitan yng sudah di ambil dan di atas tempat jahitan diambil.



(d)    Jahitan  matras kontinyu
Digunakan untuk jahitan subkutikular pada episiotomy atau laserasi atau juga dapat digunakan menutup kulit perineum dalam memperbaiki episiotomy atau laserasi.
(e)    Jahitan Mahkota
Digunakan untuk menyatukan kembali otot bulbokavernous. Tujuannya adalah mengurangi celah introitus vagina untuk memfasilitasi kembalinya tonus otot yang baik dengan cara mendekatkan otot-otot ini.
Gambar 4. Jahitan benang (a) Terkunci kontinu, (b) Jahitan dalam putus-putus, (c) Tidak terkunci kontinu, (d) Matras (Varney, 2008; h. 1183-1184).

2.    Bayi Baru Lahir
a.   Pengertian BBL
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram.
Bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai 42 minggu, dengan berat badan 2500 – 4000 gram. Nilai apgar ≥ 7 dan tanpa cacat bawaan. Bayi sehat akan menangis dengan 30 detik bayi mulai bernapas spontan dan warna kulit kemerah-merahan.
b.   Ciri – Ciri BBL Normal
1)     Berat badan 2500 – 4000 gram
2)     Panjang badan lahir 48 – 52 cm
3)     Lingkar dada 30 – 38 cm
4)     Lingkar kepala 33 – 35 cm
5)     Bunyi jantung dalam menit – menit pertama kira – kira 180 X/mnt, kemudian menurun sampai 100 – 140 X/mnt
6)     Pernafasan pada menit – menit pertama cepat kira – kira 80 X/mnt, kemudian menurun setelah tenang kira – kira 40 X/mnt.
7)     Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan diliputi vernix caseosa
8)     Rambut lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasannya telah sempurna
9)     Kuku telah agak panjang dan lemas
10)   Genetalia : labia mayora sudah menutupi labia minora (pada perempuan), testis sudah turun pada laki – laki
11)   Reflek menghisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12)   Reflek moro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan seperti memeluk
13)   Graff reflek sudah baik, apabila diletakan sesuatu benda di atas telapak tangan, bayi akan menggenggam / adanya gerakan reflek
14)   Eliminasi baik, urin dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan (Ita Rahmawati, 2010; h.150)
c.   Apgar Scor
Penilaian awal pada bayi baru lahir dapat dilakukan dengan observasi melalui pemeriksaan nilai APGAR. Penilaian APGAR ini merupakan standar evaluasi untuk bayi baru lahir, di mana ini dapat mengidentifikasi bayi tersebut membutuhkan tindakan resusitasi atau tidak. Bayi yang sehat harus mempunyai nilai APGAR 7 – 10 pada 1-5 menit pertama kehidupan.

Table 2.1 Penilaian APGAR Score

Keterangan :
·      Nilai 8 – 10                                 : normal
·      Nilai 5 – 7                                   : asfiksi ringan
·      Nilai 4 / lebih rendah                  : asfiksi berat
(Rohana, Reni saswita, marisah, 2011;h.253)
d.   Merawat Tali Pusat
1)     Memotong dan mengikat tali pusat
a)     Klem dan potong tali pusat setelah dua menit setelah bayi lahir. Lakukan terlebih dahulu penyuntikan oksitosin, sebelum tali pusat di potong.
b)     Tali pusat dijepit dengan klem DTT pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal pusat) bayi. Dari titik jepitan, tekan tali pusat dengan dua jari kemudian dorong isi tali pusat ke arah ibu (agar darah tidak terpancar pada saat dilakukan pemotongan tali pusat). Kemudian jepit (dengan klem kedua) tali pusat pada bagian yang isinya sudah dikosongkan (sisi ibu), berjarak 2 cm dari tempat jepitan pertama.
c)     Pegang tali pusat di antara kedua klem tersebut, satu tangan menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi, tangan yang lain memotong tali pusat di antara kedua klem tersebut dengan menggunakan gunting DTT atau steril.
d)     Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
e)     Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan masukan ke dalam larutan klorin 0,5 %.
f)      Kemudian letakan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu untuk IMD dan melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu minimal dalam 1 jam pertama setelah lahir.
2)     Nasehat untuk merawat tali pusat
a)     Jangan membungkus puntung tali pusat atau mengoleskan cairan / bahan apapun ke putung tali pusat.
b)     Mengoleskan alkohol atau povidon iodine masih diperkenankan, tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah / lembab. (JNPK-KR, 2008; h. 126)



e.   Mekanisme Kehilangan Panas Tubuh
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui 4 mekanisme yaitu :
1)     Konveksi
Kehilangan panas dari molekul tubuh / kulit ke udara yang disebabkan perrpindahan udara. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
2)     Konduksi
Kehilangan panas dari molekul tubuh ke molekul satu benda yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh. Terjadi jika neonatus di tempatkan pada permukaan yang dingin dan padat. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan di atas benda – benda tersebut.
3)     Radiasi
Kehilangan panas dalam bentuk gelembung elektronik ke permukaan benda yang tidak bersentuhan langsung dengan tubuh.
4)     Evaporasi
Kehilangan panas ke udara ruang dengan cara penguapan air dari permukaan kulit yang basah atau selaput mukosa.
Gambar 2. 5 Mekanisme Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir
(JNPK-KR; 2008; h.123-124)
f.    Bounding Ettechment
1)  Pengertian Bounding Ettechment
Orang tua yang mampu menciptakan ikatan emosional kuat dengan anak akan lebih mudah membentuk karakter anak dab mengisinya dengan nilai – nilai baik. Bounding memberikan rasa aman pada anak yang bisa dipupuk melalui kontak fisik atau juga tatapan penuh kasih sayang. Seorang ibu membentuk anak lebih bersikap empati dan memiliki penguasaan diri yang baik sehingga mudah dibentuk dan diberi nilai nilai yang baik. Lingkungan strees dan penuh dengan tekanan akan mempengaruhi kepribadian anak. Sebagai hubungan yang unik antara 2 orang yang sifatnya spesifik dan bertahan seiring berjalannya waktu. Ikatan orang tua terhadap anaknya dimulai sejak periode kehamilan dan semakin bertambah intensitasnya pada saat melahirkan.


2)  Manfaat bounding attachment bagi perkembangan bayi adalah
a)     Rasa percaya diri
Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil, menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berharga bagi orang lain. Jaminan adanya perhatian orang tua yang stabil, membuat anak belajar percaya pada orang lain.
b)     Kemampuan membina hubungan yang hangat
Hubungan yang diperoleh anak dari orang tua menjadi pelajaran baginya untuk kelak diterapkan dalam kehidupannya setelah dewasa. Kelekatan yang hangat akan menjadi tolak ukur dalam membentuk hubungan dengan teman hidup dan sesamanya. Namun hubungan yang buruk menjadi pengalaman traumatis baginya sehingga menghalangi kemampuan membina hubungan yang stabil dan harmonis dengan orang lain.
c)     Mengasihi sesama dan peduli pada orang lain
Anak yang tumbuh dalam hubungan kelekatan yang hangat akan memiliki sensitivitas atau kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan sekitarnya. Dia mempunyai kepedulian yang tinggi dan kebutuhan untuk membantu kesusahan orang lain.
d)     Disiplin
Kelekatan hubungan dengan anak, membuat orang tua dapat memahami anak sehingga lebih mudah memberikan arahan secara lebih proporsional, empati, penuh kesabaran, dan
pengertian yang dalam. Anak juga akan belajar mengembangkan kesadaran diri dari sikap orang tua yang menghargai anak. Sikap menghukum hanya akan menyakiti harga diri anak dan tidak mendorong keesadaran diri. Anak patuh karena takut.
e)     Pertumbuhan intelektual dan psikologis
Bentuk kelekatan yang terjalin kelak akan mempengaruhi pertumbuhan fisik, intelektual dan kognitif serta perkembangan psikologis anak.
Menurut varney (1997), kontak dini sesaat setelah melahirkan dapat dilakukan dengan cara meletakan bayi di atas perut ibu sehingga ibu dapat langsung menyentuh bayinya.
Ikatan ibu dan bayinya diperkuat melalui penggunaan respons sensual atau kemampuan orang, meliputi hal – hal berikut :
a)     Sentuhan
Sentuhan merupakan suatu sarana yang digunakan orang tua untuk mengenali bayinya. Ibu akan meraih bayinya, memeluknya, kemudian memulai eksplorasi dengan ujung jarinya dan telapak tangannya untuk membelai bayinya. Gerakan – gerakan lembut dari ibu atau ayah dapat menenangkan bayi.
b)     Kontak mata
Dalam mengembangkan suatu hubungan dengan orang lain, bayi memiliki kemampuan untuk mengadakan kontak mata (Matteson, 2001). Bayi dapat melihat dan mengikuti benda yang bergerak dengan jarak optimal 10-12 inci. Kontak mata cukup berarti dalam interaksi antara orang tua dan bayinya. Interaksi tersebut dapat dibangun dengan cara – cara sebagai berikut :
(1)    Orang tua menghabiskan waktu yang lama bersama bayinya untuk membuat bayi membuka matanya dan melihatnya
(2)    Memosisikan bayi baru lahir cukup dekat agar bayi dapat melihat orang tuanya
c)     Suara saat orang tua berbicara dengan bayinya. Orang tua berbicara dengan nada yang lebih tinggi dapat membuat bayi akan merasa senang dan lebih tenang kemudian berpaling kearahnya.
d)     Aroma
bayi dapat belajar dengan cepat untuk dapat mengenali aroma susu ibunya.
e)     Entrainment
Bayi bergerak sesuai struktur pembicaraan orang dewasa. Gerakan tersebut seperti : menggerakan tangan, mengangkat kepala, menendang kaki, dan mengikuti nada suara orang tuanya
Bounding attachment dapat dilakukan sesaat setelah persalinan. Bayi akan diletakan di perut ibu sesaat setelah dilahirkan agar ibu dan bayi dapat saling merasakan, membaui, dan menyentuh. Riset membuktikan bahwa ikatan yang kuat dimulai sejak menit – menit atau jam – jam pertama sesudah kelahiran. Peranan ibu dan suami sangat diperlukan dalam pembentukan bounding attachment ini.
Tanda kelekatan yang positif antara orang tua dan bayi antara lain sebagai berikut :
a)  Memegang bayi ketika memberi makanan
b)  Menjalin kontak mata dengan bayi
c)  Berbicara dan bersenandung pada bayi
d)  Mengenali karekteristik fisik untuk mengagumi bayinya
e)  Mengartikan tingkah laku, di antaranya reflek grasp (memegang ke jari)
f)   Memperkenalkan bayi dengan namanya
g)  Tidak bingung dengan kotorannya
h)  Membelai dan memijat bayi agar bayi diam  dan tenang (Rohani, Reni saswita, Marisah, 2011; h.256)


g.   Inisiasi Menyusui Dini / IMD
Prinsip menyusui / pemberian ASI adalah dimulai sedini mungkin dan secara eksklusif. Segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat, letakan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusui sendiri apabila sebelumnya tidak berhasil. Bayi diberi topi dan diselimuti. Ayah atau keluarga dapat memberi dukungan dan membantu ibu selama proses ini. Ibu diberi dukungan ukntuk mengenali saat bayi siap untuk menyusui dan menolong bayi bila diperlukan.
Langkah – langkah Inisiasi Menyusui Dini :
1)     Menganjurkan suami untuk mendampingi ibu saat bersalin
2)     Menganjurkan tindakan nonfarmakologik (pijat, aroma terapi, cairan, dll)
3)     Memberikan posisi ibu senyaman mungkin
4)     Melaaakukan kontak kulit
5)     Membiarkan bayi mencari puting ibu
6)     Teruskan kontak kulit hinggaterjadi IMD
7)     Menganjurkan kontak kulit bagi ibu post oprasi
8)     Timbang bayi
9)     Tidak memberikan makanan pralaktal kecuali ada indikasi
10)   Tanda – tanda bayi siap menyusui : bergerak ke arah puting, menggerak – gerakan kepala ke arah puting, sentuhan tangan bayi, lidah menjilat – jilat, gerakan menghisap.    (JNPK-KR, 2008;h.127)
h.   Managemen Bayi Baru Lahir Normal
1)     Penilaian
a)     Bayi cukup bulan
b)     Air ketuban jernih tidak tercampur mekonium
c)     Bayi menangis atau bernafas
d)     Tonus otot bayi baik
2)     Asuhan bayi baru lahir
a)     Jaga kehangatan
b)     Bersihkan jalan nafas (bila perlu)
c)     Keringkan dan tetap jaga kehangatan
d)     Potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira – kira 2 menit setelah lahir.
e)     Lakukan inisiasi menyusui dini dan kontak kulit bayi dengan kulit ibu.
f)      Beri salep mata antibiotika tetrasiklin 1 % padaa kedua mataberi suntikan vitamin K 1 mg intramuskular, di paha kiri anterolateral setelah inisiasi menyusui dini.
g)     Beri imunisasi Hepatitis B ml intramuskular, di paha kanan anterolateral diberikan kira – kira 1 – 2 jam setelahpemberian vitamin K. (APN, 2010.h;122)
3.   Lilitan Tali Pusat
a.   Pengertian
       Lilitan tali pusat adalah tali pusat yang membentuk lilitan sekitar badan janin, bahu, tungkai atas/ bawah dan leher. Lilitan tali pusat terjadi karena gerak janin yang berlebihan, tali pusat yang panjang, janin kecil dan polihidramnion. Lilitan tali pusat bisa terjadi dimana saja dari tubuh janin, tetapi yang sering terjadi adalah di bagian leher (nuchal cord). Jumlah lilitan bisa sekali (terjadi pada 21,3 % kehamilan) atau lebih dari sekali lilitan (terjadi pada 3,4 % kehamilan). Lilitan tali pusat dapat menimbulkan bradikardia dan hipoksia janin, dan bila jumlah lilitan lebih dari sekali akan meningkatkan mortalitas perinatal. Lilitan tali pusat yang erat menyebabkan gangguan (kompresi) pada pembuluh darah umbilical, dan bila berlangsung lama akan menyebabkan hipoksia janin.
Dalam masa kehamilan janin bebas bergerak dalam cairan amnion, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik. Gerakan janin dalam rahim yang aktif pada tali pusat yang panjang besar kemungkinan dapat terjadi lilitan tali pusat. Keadaan ini dijumpai pada air ketuban yang berlebihan, tali pusat yang panjang dan bayinya yang kecil. Tali pusat dapat diketahui lewat pemeriksaan USG, lilitan tali pusat tidak bisa dilepas tetapi dipantau dan memberi tahu ibu. Sebenarnya lilitan tali pusat tidaklah terlalu membahayakan namun menjadi bahaya ketika memasuki proses persalinan dan terjadi kontraksi rahim (mules) dan kepala janin turun memasuki saluran persalinan. Lilitan tali pusat bisa menjadi semakin erat dan menyebabkan penurunan utero-plasenta, juga menyebabkan penekanan/kompresi pada pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan ke bayi menjadi terganggu. Lilitan tali pusat di leherpun tidak harus berujung sesar, tetapi proses persalinan dipantau ketat pada kala I dan observasi denyut jantung. Bila denyut jantung terganggu, persalinan diakhiri dengan bedah sesar, karena jika dipaksa lahir dengan normal bisa berdampak buruk pada janin.
b.   Etiologi
Penyebab lilitan tali pusat adalah :
1)  Polihidramnion
Jumlah air ketuban melebihi 2000 cc. Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kepala janin belum memasuki bagian atas panggul. Pada saat itu ukuran bayi relative kecil dan jumlah air ketuban berlebihan, kemungkinan bayi terlilit tali pusat.
2)  Tali pusat yang panjang
Tali pusat dikatakan panjang jika melebihi 100 cm dan dikatakan pendek jika kurang dari 30 cm. Tali pusat yang panjang menyebabkan bayi terlilit. Panjang tali pusat rata-rata 50-60 cm, namun tiap bayi mempunyai tali pusat yang berbeda-beda.



c. Tanda-tanda bayi terlilit tali pusat
1)    Pada bayi dengan umur kehamilan dari 34 minggu namun bagian terendah janin (kepala/bokong) belum memasuki bagian atas rongga panggul.
2)    Pada janin letak sungsang/lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha memutar janin (versi luar/ knee chest position) perlu dicurigai pada adanya lilitan tali pusat.
3)    Tanda penurunan DJJ dibawah normal, terutama pada saat kontraksi.
d. Penyebab Bayi Meninggal Karena Lali Pusat.
1) Puntiran tali pusat secara berulang-ulang ke satu arah. Biasanya terjadi pada trimester satu dan dua . Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui tali pusat terhambat total. Karena dalam usia kehamilan umumnya bayi bergerak bebas.
2) Lilitan tali pusat pada bayi terlalu erat sampai dua atau tiga lilitan, hal tersebut menyebabkan kompresi tali pusat sehingga janin mengalami hipoksia/kekurangan oksigen.
e.  Akibat pada Ibu dan Bayi
1) Pada ibu dapat terjadi persalinan lama : merupakan persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk primigravida atau 18 jam untuk multigravida.
2) Pada bayi dapat terjadi hipoksia yang menyebabkan terjadinya asfiksia, dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.
f. Penatalaksanaan
1) Melalui pemeriksaan teratur dengan bantuan USG untuk melihat apakah ada gambaran tali pusat disekitar leher. Namun tidak dapat dipastikan sepenuhnya bahwa tali pusat tersebut melilit leher janin/tidak. Apalagi untuk erat/tidaknya lilitan. Namun dengan USG berwarna (Coller Doppen) atau USG tiga dimensi dan dapat lebih memastikan tali pusat tersebut melilit/tidak dileher atau sekitar tubuh yang lain pada janin, serta menilai erat tidaknya lilitan tersebut.
2) Memberikan oksigen pada ibu dalam posisi miring. Namun, bila persalinan masih akan berlangsung lama dengan DJJ semakin lambat (bradikardia), persalinan harus segera diakhiri dengan operasi Caesar.
3) Jika tali pusat melilit longgar di leher bayi, melepaskan melewati kepala bayi namun jika tali pusat melilit erat dileher dengan menjepit tali pusat dengan klem di dua tempat, kemudian memotong diantaranya, kemudian melahirkan bayi dengan segera. Dalam situasi terpaksa bidan dapat melakukan pemotongan tali pusat pada waktu pertolongan persalinan bayi.

4. Partograf
a.   Penggunaan Partograf
Partograf adalah alat bantu yang bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:
1)    Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
2)    Mendeteksi apakah persalinan berjalan secara normal atau tidak.
Partograf dapat digunakan:
a)  Untuk ibu dalam fase aktif kala I persalinan sebagai elemen penting asuhan persalinan
b)  Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, Klinik, Bidan, swasta, Rumah Sakit)
c)  Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran.
Jika digunakan secara tepat dan konsisten maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk :
a)  Mencatat kemajuan persalinan
b)  Mencatat kondisi ibu dan janin
c)  Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran
d)  Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya penyakit
e)  Menggunakan informasi yang informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu.




      Tabel 2.2 Frekuensi minimal pemeriksaan dan intervensi persalinan normal
                                                                              (Yanti, 2010; h. 108-109)
b.    Bagian-Bagian Partograf
1)    Informasi tentang ibu:
a)    Nomor pendaftaran, nomor puskesmas
b)    Nama dan umur ibu
c)    Keterangan mengenai jumlah gravida para dan abortus (GPA)
d)    Tanngal / jam kedatangan ibu
e)    Keadaan ketuban, waktu pecahnya ketuban
f)     His ada atau tidak
2)    Kondisi janin
a)    Denyut jantung janin (DJJ)
b)    Warna dan adanya air ketuban
c)    Penyusupan (molase) kepala janin
d)    Pembukaan serviks
e)    Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin
f)     Garis waspada dan garis bertindak.
3)    Jam dan waktu :
a)    Waktu mulainya fase aktif persalinan
b)    Waktu actual saat pemeriksaan atau prsalinan
4)    Kontraksi uterus  : frekuensi dan lamanya
5)    Obat-obatan dan cairan yang diberikan:
a)    Oksitosin
b)    Obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan
6)     Kondisi ibu
a)    Nadi, tekanan darah dan temperature tubuh
b)    Urine (volume, aseton, dan protein)
c.    Mencatat temuan pada partograf
1)  Informasi tentang ibu
2)  Keselamatan dan kenyamanan janin
a)  Denyut jantung janin (DJJ)
b)  Warna dan adanya air ketuban, lambang-lambang yang sering digunakan :
U      : Ketuban utuh (belum pecah)
J       : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M      : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
D      : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K       : Ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (kering)
c)  Molase (penyusupan kepala janin)
Penyusupan adalah indicator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian atas panggul ibu.
Lambang-lambang yang digunakan :
0       : Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah di palpasi
1       : Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih, tetapi masih dapat di pisahkan
2       : Tulang-tulang kepala kapala janin hanya saling bersentuhan
3       :  Tulang-tulang kepala janin tumpang  tindih tidak dapat dipisahkan
3)    Kemajuan persalinan
a)    Pembukaan serviks
Nilai dan catat pembukaan serviks  setiap  4 jam, bila ada tanda-tanda penyulit dilakukan lebih sering.
b)    Penurunan bagian terbawah/presentasi janin setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (tiap 4 jam ) atau lebih sering kali ada tanda-tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah atau presentasi janin.
c)    Garis waspada/garis bertindak
Pencatatan fase aktif persalinan harus dimulai dari garis waspada.Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan adanya penyulit (misal : fase aktif yang memanjang, macet). Pertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan misalnya persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan.
d)    Jam dan waktu
-        Waktu mulainya fase aktif persalinan
Dibagian bawah partograf (pembukaan servik dan penurunan) tertera kotak – kotak yang di beri angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya persalinan.
-        Waktu aktual saat pemeriksaan di lakukan
Dibawah lajur kotak yaitu waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan
dilakukan.
e)    Kontraksi uterus

menyatakan kontraksi yang lamanya < 20 detik


4)    Obat-obatan dan caiaran yang diberikan
a)    Oksitosin
Jika tetesan (drip)oksitosin sudah mulai, didokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin yang diberikan per volume caiaran IV dan dalam saluran tetesan per menit.
b)    Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan atau cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.
5)    Kesehatan dan kenyamanan ibu
a)    Nadi, tekanan darah dan temperature tubuh
-        Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase persalinan (lebih sering jika dicurigai adanya penyulit).
-        Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih sering jika dianggap adanya penyulit).
-        Nilai dan catat temperature tubuh ibu (lebih sering jika meningkat atau dianggap adanya penyulit) setiap 2 jam.
b)    Volume urine, protein dan aseton.
Ukur dan catat jumlah produksi urine ibu tiap 2-4 jam (setiap kali ibu berkemih), Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein urine.(Yanti, 2010; h. 110-119)

B. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan
Proses manajemen kebidanan menurut Helen Varney (1997)
1.    Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen Kebidanan adalah pendekatan yang  digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analis data, diagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Muslihatun, Mufdlilah dan Nanik, 2009)


2.    Langkah-langkah Manajemen Kebidanan
a.    Pengumpulan data dasar
Langkah ini dilakukan dengan melakukan pengkajian melalui proses pengumpulan data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan pasien secara lengkap seperti riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan, peninjauan catatan terbaru atau catatan sebelumnya, data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi. Semua data dikumpulkan dari semua sumber yang berhubungan dengan kondisi pasien.
b.    Interpretasi data dasar
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interpretasi yang benar terhadap data dasar.
c.    Identifikasi diagnosis atau masalah potensial
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial yang lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi yang cukup dan apabila memungkinkan dilakukan proses pencegahan atau dalam kondisi tertentu pasien membutuhkan tindakan segera.


d.    Identifikasi dan penetapan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Tahap ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakan. Kegiatan bidan pada tahap ini adalah konsultasi, kolaborasi, dan melakukan rujukan.
e.    Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Dalam Proses perencanaan asuhan secara menyeluruh juga dilakukan identifikasi beberapa data yang tidak lengkap agar pelaksanaan secara menyeluruh dapat berhasil.
f.     Pelaksanaan perencanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien maupun diagnosis yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
g.    Evaluasi
Merupakan tahap terakhir dalam manejemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dari perencanaan maupun pelaksanaan yang dilakukan bidan.        (Moh.Wildan dan A.A Hidayat, 2008; h. 36-39)



3.    Penerapan manajemen kebidanan pada ibu bersalin dengan Lilitan Tali Pusat
a.    Langkah I : Pengumpulan data dasar
1)    Data subyektif ialah Data yang diperoleh langsung dari pasien/klien (anamnesis) atau keluarga dan tenaga kesehatan (allo anamnesis) (Moh.Wildan dan A.A Hidayat, 2008).
a)    Biodata mencakup identitas pasien
(1)    Nama
Selain sebagai identitas, upayakan agar bidan memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab.
(2)    Agama
Sebagai dasar bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan keluarga sebelum dan saat persalinan.
(3)    Umur
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam persalinan beresiko karena usia ataukah tidak.
(4)    Pendidikan Terakhir
Sebagai dasar bidan untuk menentukan metode yang tepat dalam penyampaian informasi mengenai teknik melahirkan. Tingkat pendidikan ini akan sangat mempengaruhi daya tangkap dan tanggap pasien terhadap instruksi yang diberikan bidan pada proses persalinan.
(5)    Pekerjaan
Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan.
(6)    Suku/bangsa
Data ini berhubungan dengan sosial budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga yang berkaitan dengan persalinan.
(7)    Alamat
Selain sebagai data mengenai distribusi lokasi pasien, data ini juga memberi gambaran mengenai jarak dan waktu yang di tempuh pasien menuju lokasi persalinan.
(Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 220-221).
b)    Alasan datang
Dikaji untuk mengetahui alasan ibu datang ketempat layanan kesehatan.
c)    Keluhan utama
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa persalinan, misalnya kapan mulai terasa ada kenceng-kenceng di perut, bagaimana intensitasnya dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yang berbeda dari air kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahterahannya (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 221).
d)    Riwayat kesehatan
(1)    Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa persalinan.
(2)    Riwayat kesehatan sekarang
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya dengan persalinan sekarang.
(3)    Riwayat kesehatan keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertainya.
e)    Riwayat Perkawinan
Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan berkaitan dengan psikologisnya (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 133).

f)     Riwayat obstetric
(1)    Riwayat haid
(a)    Umur menarche
(b)    Siklus menstruasi
(c)    Teratur atau tidak menstruasinya
(d)    Lama menstruasi
(e)    Estimasi banyaknya darah, kurang lebih 2-3 pembalut/hari, 1 pembalut besar penuh kurang lebih 100 cc, 1 pembalut kecil penuh kurang lebih 30-50 cc.
(f)     Warna darah, normalnya merah tua
(g)    Keluhan saat haid : pernah dismenorhea atau tidak, menderita pre menstruasi syndrome atau tidak.
(h)    Flour albus, pada wanita normal terjadi sebelum dan sesudah haid, tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal, jumlah sedikit.
(i)      Hari pertama haid terakhir untuk menentukan umur kehamilan.   (Ika Pantikawati dan Saryono, 2010; h. 115)
(2)    Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 134).


(3)    Riwayat kehamilan sekarang
Hal – hal yang perlu dikaji, antara lain :
(a)    Umur kehamilan
(b)    ANC berapa kali, dimana, mendapatkan therapy, penyulit, keluhan
(c)    Imunisasi TT sudah atau belum (berapa kali)
(d)    Ada kebiasaan – kebiasaan waktu hamil sekarang
-          Cara memasak (berpengaruh terhadap kadar gizi ibu)
-          Minum jamu, merokok atau minum obat-obatan tertentu.             (Sulistyawati dan Esty, 2010, h. 222)
g)    Riwayat KB
Dikaji untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah persalinan (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 134).
h)    Riwayat medis
Apakah ibu mengalami sakit kepala dan nyeri epigastrium dan riwayat penyakit lainya yang perlu ditanyakan adalah ibu mempunyai penyakit jantung, paru-paru, pernafasan, karena hal untuk mendeteksi adanya komplikasi pada persalinan (Rohani, 2011 ; h.82)

i)      Pola pemenuhan sehari-hari
(1)    Pola nutrisi
Pola makan   : kapan atau jam berapa terakhir kali makan, makanan yang dimakan, jumlah makanan yang dimakan (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h.221).
Pola minum   : Kapan terakhir kali minum, berapa banyak yang diminum, Apa yang diminum (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h.221).
(2)    Pola istirahat
Dikaji untuk mengetahui kapan terakhir tidur, berapa lama, aktivitas sehari-hari (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h.224).
(3)    Pola eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah.
(Ambarwati dan Wulandari, 2008, h. 136).
(4)    Pola aktivitas
Memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien dirumah. Jika di akhir kehamilan pasien melakukan aktivitas yang terlalu berat di khawatirkan pasien akan merasa kelelahan sampai akhirnya dapat menimbulkan penyulit pada masa persalinan.(Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h. 224).
(5)    Pola seksual
Dikaji untuk mengetahui keluhan, frekuensi, kapan terakhir melakukan hubungan seksual. (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; 224)
(6)    Pola personal hygiene
Data ini perlu dikaji karena akan sangat beerkaitan dengan kenyamanan pasien dalam menjalani proses persalinan. Pertanyaan yang diajukan biasanya, kapan terakhir mandi, keramas, gosok gigi, ganti baju dan pakaian dalam (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h. 224).
j)      Pola psiko sosio spiritual ekonomi
(1)    Tanggapan ibu terhadap persalinannya saat ini
Menanyakan langsung pada pasien mengenai bagaimana perasannya terhadap kehamilan dan kelahirannya.
(2)    Tanggapan keluarga terhadap persalinan saat ini
Mengetahui respon keluarga terhadap persalinan karena respon yang positif dari keluarga terhadap persalinan akan mempercepat proses adaptasi pasien menerima peran dan kondisinya. 
(3)    Penyelesaian masalah
Dikaji untuk mengetahui seberapa jauh ibu mampu menyelesaikan masalahnya di dalam keluarga dan dengan siapa ibu merundingkan masalahnya.
(4)    Pengambilan keputusan
Dikaji untuk mangetahui siapakah pengambil keputusan utama dan kedua dalam keluarga ibu.
(5)    Ketaatan beribadah
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu taat dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang ibu dianut.
(6)    Lingkungan yang berpengaruh
Dikaji untuk mengetahui ibu tinggal dengan siapa saat ini dan apakah selama ini ibu mempunyai hewan peliharaan.
(7)    Tingkat ekonomi
Dikaji untuk mengetahui apakah penghasilan ibu dan keluarga mampu untuk mencukupi biaya hidup keluarga dan keadaan rumah tempat tinggal ibu saat ini.
(8)    Pengetahuan ibu tentang persalinan
Dikaji untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang persalinan (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h. 225)
2)    Data Obyektif adalah data yang dikumpulkan guna melengkapi data untuk menegakkan diagnosis. Bidan melakukan pengkajian data obyektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi, dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan secara berurutan (Ary Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 226)


a)    Pemeriksaan umum
Mengetahui keadaan umum ibu, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital yang terdiri dari tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan, berat badan ibu, tinggi badan ibu, lingkar lengan atas ibu (Ary Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 226). Kenaikan atau penurunan tekanan darah merupaka indikasi adnya gangguan hipertensi dalam kehamilan atau syok. Peningkatan suhu menunjukan adanya proses infeksi, syok atau dehidrasi. Peningkatan frekuensi pernafasan dapat menunjukan adanya syok (Rohani, 2011; h.83)
b)    Status present
Dilakukan pemeriksaan head to toe ( Ary Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 226-228) :
(1)    Kepala        :    Bagaimana bentuk kepala ibu, kulit kepala bersih atau tidak, apakah rambut rontok atau tidak, ketombe.
(2)    Muka          :    Apakah terlihat pucat atau tidak
(3)    Mata           :    Apakah konjungtiva pucat atau tidak, apakah skera ikterik atau tidak
(4)    Hidung        :    Apakah hidung bersih, secret, polip.
(5)    Telinga        :    Apakah simetris atau tidak, terdapat serumen atau tidak.
(6)   Mulut          :    Bibir pucat atau tidak, lembab atau kering, terdapat stomatitis dan caries dentist atau tidak, lidah kotor atau tidak, mulut bau aseton atau tidak.
(7)    Leher          :  Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid atau tidak, pembesaran vena jugularis.
(8)    Dada          :  Apakah simetris atau tidak, terdapat  retraksi dinding dada atau tidak, pernafasan dada bagaimana.
(9)   Mammae  :   Apakah terdapat benjolan di daerah mammae atau tidak, terdapat retraksi/dimpling (menunjukkan adanya keganasan)
(10) Abdomen  :     Apakah ada bekas operasi atau tidak, Tanda bekas operasi digunakan untuk melihat apakah ibu pernah mengalami SC atau tidak, sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya (Rohani 2011; h.84), apakah ada pembesaran hati, limpa atau tidak, nyeri tekan atau tidak.
(11)  Punggung :    Apakah bentuk punggung lordosis atau tidak.
(12)  Genetalia  :      Kebersihan bagaimana, apakah ada varises, apakah ada odema.



(13)  Ekstremitas :
(a)  Ekstrematas atas      : kuku pucat atau tidak, gerakan bagaimana, jumlah jari lengkap, odema atau tidak.
(b)   Ekstremitas bawah   : kuku pucat atau tidak, reflek patella positif atau tidak, varises atau tidak, odema atau tidak.
(14)  Anus          :     Kebersihan bagaimana, adakah hemoroid.
c)    Status obstetric :
(1)    Pemeriksaan Inspeksi
(a)    Muka                  :   Apakah ada cloasma gravidarum.
(b)    Payudara          : Hyperpigmentasi, putting datar /   masuk / menonjol, payudara membembesar.
(c)    Abdomen         : Apakah ada stiae livid, stiae albikan atau tidak, apakah ada linea nigra/tidak.
(d)    Genetalia               :Apakah ada pengeluaran pervaginam.
(2)    Pemeriksaan palpasi
(a)    Muka                     : Apakah terdapat odema pada      muka atau tidak.

(b)    Payudara               :        Kolostrom sudah keluar atau belum.
(c)    Abdomen :
-          Leopold I      : Untuk menentukan tinggi fundus    uteri dan bagian janin yang dibagian fundus. TFU diukur dengan menggunakan jari.
-          Leopold II        : Untuk menentukan apakah bagian punggung yang terletak dikiri atau dikanan perut ibu dan juga bagian-bagian kecil dari janin.
-          Leopold III      : Untuk menentukan bagian terbawah janin.
-          Leopold IV : Untuk menentukan apakah bagian terbawah janin sudah masuk panggul atau belum, divergen atau konvergen.
-          TFU  : Tinggi Fundus Uteri (berapa cm manurut MC Donald)
-          TBJ :Untuk menafsirkan berat janin dalam kandungan, menurut Johnson-Tausak adalah :
·      TBJ : (panjang fundus dalam cm – 12 ) x 155 bila bagian janin belum masuk PAP
·      TBJ : (panjang fundus dalam – 11 ) x 155 bila bagian janin sudah masuk PAP
(d)    Genetalia : Dilihat adakah udema dan varises pada vagina atau tidak.
(3)    Pemeriksaan auskultasi
Dilakukan untuk mengetahui denyut jantung janin apakah normal atau tidak, DJJ dihitung 1 menit penuh, iramanya.
(4)    Pemeriksaan penunjang
Dikaji apakah dilakukan pemeriksaan laboratorim seperti Hb, golongan darah, urine, USG.
(5)    Data penunjang
Semua hal yang di dapat dari memindah Rekam Medik.
b.    Langkah II : Interpretasi data dasar
Mengidentifikasi diagnosa kebidanan dan masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan di interpretasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah. Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan separti diagnose tetapi membutuhkan penanganan yang di tuangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan wanita yang diidentifikasikan oleh bidan (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 141)
1)    Diagnosa kebidanan
Dalam bagian ini yang disimpulkan bidan antara lain:
a)     Paritas
Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan dengan kehamilannya (jumlah kehamilan), dibedakan menjadi primigravida (hamil pertama kali) dan multigravida (hamil kedua atau lebih).
b)     Usia kehamilan (dalam minggu)
c)     Kala dan fase persalinan
d)     Keadaan janin
e)     Normal atau tidak normal
(Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.228-229)
2)    Masalah
Dalam asuhan kebidanan istilah ”masalah” dan ”diagnosis” dipakai keduanya karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana pasien menghadapi kenyataan terhadap diagnosisnya (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.229)
3)    Kebutuhan
Dalam bagaimana menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.229)
c.   Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa / masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi.Pada langkah ini diidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 142).
d. Langkah IV : Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera.
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 143).
e.   Langkah V  : Merencanakan asuhan kebidanan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau di antisipasi. Rencana asuahan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah di lihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi pasien tersebut yaitu apa yang akan terjadi berikutnya (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 143).
f.    Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman
Dalam langkah VI pelaksanaan dilakukan sesuai dengan perencanaan pada langkah sebelumnya secara efisien dan aman , perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi dilakukan oleh tim kesehatan lainnya (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.231-232).

g.   Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang di berikan kepada pasien (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.233).

C.  Landasan Hukum
1.    KEPMENKES RI NO.369/MENKES/SK/III/2007
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 369/MenKes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan
Asuhan selama persalinan dan kelahiran kompetensi ke-4 yaitu bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin selama persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir. Keterampilan dasar yang harus dimiliki pada kompetensi ke-4 salah satunya yaitu memberikan pertolongan persalinan normal dengan melakukan pemantauan kemajuan persalinan dengan partograf.
2.    PerMenkes RI No.1464/MenKes/Per/X/2010
BAB III Tentang Penyelenggaraan Praktik Pasal 9
a.   Pasal 9
Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan  pelayanan yang meliputi:
1)   Pelayanan kesehatan ibu;
2)   Pelayanan kesehatan anak; dan
3)  Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.
b.   Pasal 10
1)   Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf a diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua kehamilan.
2)   Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi;
a)  Pelayanan konseling pada pasa pra hamil;
b)  Pelayanan antenatal pada kehamilan normal;
c)  Pelayanan persalinan normal
d)  Pelayanan ibu nifas normal;
e)  Pelayanan ibu menyusui; dan
f)   Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
3)  Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berwenang untuk:
a)  Episiotomi;
b)  Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II;
c)  Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan;
d)  Pemberian tablet Fe pada ibu hamil;
e)  Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas;
f)   Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu eksklusif;
g)  Pemberian uteronika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum;
h)  Penyuluhan dan konseling;
i)    Bimbingan pada kelompok ibu hamil;
j)    Pemberian surat keterangan kematian; dan
k)  Pemberian surat keterangan cuti bersalin
3.    Standar Pelayanan Kebidanan
Dari 25 standar pelayanan kebidanan, yang terkait dengan standar pertolongan persalinan kala I dan II adalah sebagai berikut:
a.   Standar 9 : Asuhan persalinan kala I
Pernyataan standart:
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan.
b.   Standar 10 : Persalinan kala II yang aman
Pernyataan standart:
Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.
c.   Standar 11 : Penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga
Pernyataan standart:
Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.
d.   Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomy
Pernyataan standar:
Bidan mengenali secara tepat tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.
e.   Standar 13 : Perawatan bayi baru lahir
Pernyataan standar:
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi.
f.  Standar 14 :Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan
Pernyataan standar:
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melukukan tindakan yang diperlukan. Di samping itu, bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.


4.    Landasan hukum sesuai dengan KEPMENKES Nomor HK.02.02/MENKES/149/I/2010
a.   Pasal 8
Bidan dalam menjalankan praktek berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi :
1)    Pelayanan kebidanan
2)    Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan, dan
3)    Pelayanan kesejatan masyarakat
b.   Pasal 9
1)    Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 nomor 1 ditujukan kepada ibu dan bayi.
2)    Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diberikan pada masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas, dan masa menyusui.
3)    Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diberikan pada bayi baru lahir normal sampai usia 28 hari.
c.   Pasal 10
1)    Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat 2 meliputi :
a)  Penyuluhan dan konseling
b)  Pemeriksaan fisik
c)  Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
d)  Pertolongan persalinan normal
e)  Pelayanan ibu nifas normal
2)    Pelayanan kebidanan kepada bayi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat 3 meliputi :
a)    Pemeriksaan bayi baru lahir
b)    Perawatan tali pusat
c)    Perawatan bayi
d)    Resusitasi pada bayi baru lahir
e)    Pemberian imunisasi pada bayi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah, dan
f)     Pemberian penyuluhan
d.   Pasal 11
Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 nomor 1 berwenang untuk :
1)    Memberikan imunisasi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah
2)    Bimbingan senam hamil
3)    Episiotomi
4)    Penjahitan luka episiotomi
5)    Kompresi bimanual dalam rangka kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
6)    Pencegahan anemia
7)    Inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu eksklusif
8)    Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
9)    Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
10) Pemberian minum dengan sonde atau pipet
11) Pemberian obat bebas, uterotonika untuk postpartum dan manajemen aktif kala III
12) Pemberian surat keterangan kelahiran, dan
13) Pemberian surat keterangan hamil untuk keperluan cuti melahirkan
e.   Pasal 18
1)    Dalam melaksanakan praktik, bidan berkewajiban untuk :
a)  Menghormati hak pasien
b)  Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani dengan tepat waktu
c)  Menyimpan rahasia kedokteran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
d)  Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan
e)  Meminta persetujuan tindakan kebidanan yang akan dilakukan
f)   Melakukan pencatatan asuhan kebidanan secara sistematis
g)  Mematuhi standart
h)  Melakukan pelaporan penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian
2)    Bidan dalam menjalankan praktik senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya
f.    Pasal 19
Dalam melaksanakan praktik, bidan mempunyai hak :
1)    Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik sesuai dengan standart profesi dan standart pelayanan
2)    Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien atau keluarganya
3)    Melaksanakan tugas sesuai dengan kewenangan, standart profesi dan standart pelayanan
4)    Menerima imbalan jasa profesi

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN NORMAL DENGAN LILITAN TALI PUSAT PADA NY. M DI BPM NY. DWI LESTARI DESA BOTOREJO
KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN DEMAK

Pengkajian I
Tanggal Pengkajian    : 11 Oktober 2011
Jam Pengkajian          : 05.00 WIB
Tempat Pengkajian     : BPM Ny. Dwi Lestari
Nama Mahasiswa       : Dyah Lasma Wardani
NIM                             : 3.09.025
I.    Pengumpulan Data Dasar
A.    Subyektif
1.    Identitaas Pasien                                        penanggung Jawab (Suami)
Nama         : Ny. M                                                Nama              : Tn. U
Umur          : 21 tahun                                Umur               : 23 tahun
Agama        : Islam                                     Agama                        : Islam
Suku           : Jawa                                     Suku                : Jawa
Bangsa       : Indonesia                               Bangsa            : Indonesia
Pendidikan : SMA                                      Pendidikan      : SMA
Pekerjaan   : Wiraswasta                           Pekerjaan        : Wiraswasta


Alamat        : Ds. Tukangan Rt 05/Rw 04 Alamat              :Ds. Tukangan Rt 05/Rw 04
2.    Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin melahirkan, karena sudah merasa kenceng-kenceng sejak jam 00.00 tanggal 11 Oktober 2011. Pada jam 04.30 ibu merasa mengeluarkan cairan dari jalan lahir.
3.    Keluhan Utama
Ibu merasakan kenceng-kenceng, mulas dan nyeri pada punggung dan menjalar ke perut bagian bawah serta mengeluarkan lendir darah dan cairan dari jalan lahir.
4.    Riwayat Kesehatan
a.    Kesehatan Dahulu
Ibu mengatakan dulu tidak pernah menderita penyakit menurun seperti jantung, asma, DM, hipertensi. Ibu juga tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, dan PMS. Ibu juga mengatakan tidak pernah dirawat di RS dan tidak pernah di operasi.
b.    Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini sedang merasakan kenceng-kenceng pada perutnya dan rasa tidak nyaman pada punggungnya, karena akan melahirkan. Ibu saat ini tidak sedang menderita penyakit menurun seperti jantung, asma, DM, hipertensi. Ibu juga tidak sedang menderite penyakit menular seperti TBC, hepatitis, dan PMS.

c.    Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan baik saat ini maupun dahulu tidak ada keluarga yang menderita penyakit menurun seperti jantung, asma, DM, hipertensi. Keluarga juga tidak menderite penyakit menular seperti TBC, hepatitis, dan PMS.
5.    Riwayat Perkawinan
Ibu mengatakan menikah 1 kali, saat umur ibu 20 tahun dengan suami yang berumur 22 tahun, lama perkawinan 1 tahun.
6.    Riwayat Obstetri
a.    Riwayat Menstruasi
1)     Menarche             : 12 tahun
2)     Siklus                    : 28 hari
3)     Lama                    : 6-7 hari
4)     Banyak                 : sehari ganti pembalut 2-3 kali
5)     Bau                       : khas darah/anyir
6)     Warna                   : merah tua
7)     Disminore             : tidak ada
8)     Flour albuse           : mengalami keputihan sebelum dan sesudah menstruasi
9)     HPHT                   : 22 Desember 2010
b.    Riwayat Kehamilan, Persalinan dan nifas yang lalu
Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama.
c.    Riwayat Kehamilan Sekarang
1)    Ibu mengatakan ini hamil yang pertama, dengan umur kehamilan 42 minggu dan tidak pernah keguguran.
2)    HPHT       : 22 Desember 2010
HPL          : 29 September 2011
3)    Ibu mengatakan BB sebelum hamil = 51 kg.
BB sekarang = 60 kg.
4)    Gerakan janin pertama kali dirasakan saat UK 4 bulan. Gerakan bayi sekarang dirasakan semakin kuat dan aktif.
5)    Ibu mengatakan selama hamil melakukan ANC sebanyak 10 kali, yaitu : TM 1 : -, TM 2 : 5x , dan TM 3 : 5x.
6)    Keluhan pada TM I : mual, muntah, pusing yang hilang bila dipakai istirahat. TM II : tidak ada keluahan, TM III : tidak ada keluhan.
7)    Ibu mengatakan selama hamil mendapatkan imunisasi TT 2x, yaitu : TT I UK 20 minggu, TT II UK 25 minggu.
8)    Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan lain kecuali dari bidan.
9)    Ibu mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang berpengaruh buruk terhadap kehamilannya seperti : minum alkohol, merokok, narkoba, dan minum jamu.
10) Ibu mengatakan ingin bersalin di bidan.
7.    Riwayat KB
 Ibu mengatakan belum pernah menggunakan KB dalam jenis apapun, karena ini merupakan kehamilan pertamanya. Dan setelah melahirkan nanti rencana ibu ingin menggunakan KB suntik.


8.    Pola Kebutuhan Sehari-hari
Pola selama bersalin
Nutrisi                       : Makan terakhir malam hari dengan porsi sedang, jenisnya nasi, sayur dan lauk. Pagi makan roti I potong sedang. Minum 1 gelas teh manis dan 1 gelas air putih
Eliminasi                : BAB terakhir : tanggal 10-10-2011 jam 16.30 WIB konsistensi padat, bau khas feces, BAK terakhir : tanggal 11-10-2011 jam 05.15 WIB.
Aktivitas                 : Ibu hanya melakukan aktivitas yang ringan-ringan saja, sehingga ibu tidak terlalu capek.
Istirahat                  : Istirahat terakhir selama ± 4 jam, dengan kualitas tidur kurang nyenyak karena sudah merasakan ketidaknyamanan.
Personal Hygiene  : Mandi terakhir : tanggal 10-10-2011 jam 16.30 WIB.
Sesual                    : ibu mengatakan sudah tidak berhubungan seksual sejak umur kehamilan 9 bulan
9.    Psikososial Spiritual dan Ekonomi
a.   Tanggapan dan dukungan keluarga serta lingkungan terhadap kehamilannya
Ibu mengatakan suami dan keluarga sangat senang dengan kehamilan yang pertama ini, dan mereka sangat mendukung kehamilan ini.

b.   Pengambilan keputusan dalam keluarga
Dalam keluarga pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah. Dan sudah diputuskan ibu akan bersalin di BPS Ny. Dwi Lestari.
c.   Ketaatan beribadah
Ibu mengatakan ia dan suami biasa sholat 5 waktu.
d.    Lingkungan yang berpengaruh
Ibu mengatakan masih tinggal serumah dengan orang tua bersama suaminya. Ibu mengatakan aktif mengikuti kegiatan sosial di masyarakat seperti arisan,pengajian dan posyandu.
e.   Hewan peliharaan
Di rumah terdapat hewan peliharaan berupa 2 ekor kucing yang berkeliaran di dalam rumah dan beberapa ekor ayam yang ditempatkan di kandang sebelah rumah.
f.    Cara memasak
Ibu mengatakan kebiasaan bila memasak di potong dulu baru di cuci, dan bila memasak sayur tidak terlalu matang.

B.    Obyektif
1.    Pemeriksaan Umum
a.    Keadaan umum                        : Baik
b.    Kesadaran                                : Composmentis
c.      TTV                                        
TD       : 110/90 mmHg
Nadi     : 88x/menit
RR       : 21x/menit
S          : 36,30 C
d.    BB (sebelum hamil dan sekarang)
BB sebelum hamil        : 51 kg
BB sekarang                 : 60 kg
TB                                 : 154 cm
Lila                                : 26,5 cm
e.    Umur Kehamilan          : 42 minggu
f.     HPL                              : 29 September 2011
2.    Pemeriksaan fisik atau status present
a.   Kepala                : bentuk mesochepal, tidak ada benjolan  abnormal, rambut dan kulit kepala bersih.
b.   Muka                   :    tidak pucat dan tidak odema,
c.   Mata                    :  simetris, konjungtiva tidak anemi, pupil normal,  sclera putih, tidak ada secret.
d.   Hidung                 :  bentuk simetris, bersih, tidak ada pembesaran polip
e.   Telinga                 :   simetris, bersih tidak ada penumpukan serumen
f.    Mulut                   : bersih, tidak terdapat karies,  gigi tidak berlubang, tidak sariawan, bibir lembab dan tidak pucat.
g.   Leher                   : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, reflek menelan baik, tidak ada pembesaran vena jugularis.
h.   Dada                    :  simetris, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada retraksi dinding dada.
i.    Ketiak                  : tidak ada benjolan abnormal, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
j.    Abdomen             :    tidak ada luka bekas operasi.
k.   Genetalia             :  terdapat lendir darah, tidak odema, tidak ada varises/tanda chadwich
l.    Ekstremitas         :  atas : tidak odema, reflek otot baik, dapat bergerak bebas
bawah : tidak odema, tidak ada varises, reflek patella +, dapat bergerak bebas.
m. Anus                    :    bersih, tidak ada hemoroid
3.    Status Obstetri
a.   Inspeksi
Muka                   :  tidak odema,  terdapat kloasma gravidarum, tidak pucat
Payudara             :  simetris, membesar, areola menghitam, puting menonjol.
Abdomen             : terdapat strie gravidarum dan linea nigra, membesar sesuai   umur kehamilan.
Genitalia              :  tidak odema, terdapat lendir darah, tidak ada varises
b.    Palpasi
Payudara             :   tidak ada benjolan abnormal, colostrum belum keluar
Abdomen             :    tidak ada nyeri tekan
Leopold I              :  teraba bagian bulat lunak dan tidak melenting  (bokong)
Leopold II             : kanan : teraba tahanan keras memanjang (punggung), kiri :  teraba bagian kecil-kecil janin (ekstremitas)
Leopold III            :  teraba bagian bulat keras dan sudah tidak bisa digoyangkan (kepala)
Leopold IV           :  bagian terbawah janin sudah masuk Pintu Atas Panggul (divergen)
TFU                     :   30 cm
TBJ                      :   (TFU-11)x 155 = (30-11) x 155 = 2945 gram
Penurunan kepala : 3/5
Ring Bandle         :   tidak ada
HIS                      :   4x/10 menit selama 30 detik, kuat dan teratur.
c.    Auskultasi
DJJ                      :   138X/menit (dengan dopler)
Punctum Max     :   perut bagian bawah pusat sebelah kanan.
Irama                   :   teratur
d.    VT         : Vulva                         : Tidak kemerahan, tidak bengkak
Vagina                       : Tidak bengkak
Portio                         : tipis, lunak
Effacement               : 40%
Pembukaan               : 4 cm
Kulit ketuban             : sudah pecah
Presentasi                 : Kepala
Molase                       : Tidak ada
Point Of Direction     : UUK
Bagian yang menumbung     : Tidak ada
PPV                           : Lendir darah
e.    Pemariksaan Penunjang           : tidak dilakukan

II.   INTERPRETASI DATA
A.  Diagnosa kebidanan
Ny. M  G1P0A0, umur 21 tahun, hamil 42 minggu, janin tunggal hidup intra uteri, letak membujur, puka, presentasi kepala, kepala sudah masuk panggul dalam inpartu kala I fase aktif.
Data Dasar :
DS                       :  1.   Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan atau keguguran.
2.  Ibu mengatakan sekarang berusia 21 tahun.
3.  Ibu mengatakan HPHT tanggal 22 Desember 2010.
4. Ibu mengatakan kenceng-kencengnya semakin bertambah kuat.
DO                    :   1. Palpasi :
Leopold I  : teraba bagian bulat lunak dan tidak melenting (bokong) TFU : 30 cm,
Leopold II : kanan : teraba tahanan keras memanjang (punggung), kiri :  teraba bagian kecil-kecil janin (ekstremitas),
 Leopold III  : teraba bagian bulat keras dan sudah tidak bisa digoyangkan (kepala),
 Leopold IV  : bagian terbawah janin sudah masuk Pintu Atas Panggul (divergen)
2.    TBJ     : (30-11) x 155 = 2945 gram.
3.    DJJ     : 138x/menit
4.   HIS        : 4x/10 menit selama 30 detik, kuat dan teratur
5.    Vuvla/vagina tidak ada kelainan, portio tipis,
6.    Effesment 40 %, Pembukaan 4 cm
7.    KK (-)
8.    Molase            : Tidak ada
9.    Point Of Direction : UUK
10.  Bagian yang menumbung : Tidak ada
11.  Presentasi belakang kepala
12.  Penurunan kepala 3/5
13.  PPV lendir darah.
B.  Masalah               : ibu terlihat agak cemas karena menjelang proses persalinan.
C.  Kebutuhan           : ajarkan ibu teknik relaksasi.
III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL
Tidak ada
IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Tidak ada
 BAB IV
BAHASAN

Bahasan merupakan bagian dari studi kasus yang membahas tentang kesenjangan dan kesamaan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus. Dengan kesenjangan tersebut dapat dilakukan pemecahan masalah untuk perbaikan dan masukan demi peningkatan asuhan kebidanan menurut Helen Varney.
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan persalinan normal pada Ny.M G1P0A0 umur 21 tahun dengan lilitan tali pusat di BPM Ny. Dwi Lestari Desa Botorejo Kabupaten Demak. Maka pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan dan kesamaan antara teori dan kenyataan yang dilakukan secara sistematis yaitu dari pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sehingga penulis merumuskan sebagai berikut :
A.   Langkah I : Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal untuk menilai dan mengetahui kondisi pasien. Dalam mengumpulkan data atau pengkajian dilakukan dengan  2 cara yaitu dengan mengumpulkan data subyektif dan obyektif. Pada kasus ini dilakukan pengkajian pada ibu bersalin normal Ny. M umur 21 tahun G1P0A0 hamil 42 minggu dengan lilitan tali pusat, tanggal 11 Oktober 2011 di BPM Ny. Dwi Lestari.

1.   Data Subjektif
Penulis tidak mengalami kesulitan dalam mengumpulkan data subyektif karena klien dapat diajak bekerjama.
a.   Umur
1)      Menurut teori
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam persalinan beresiko karena usia ataukah tidak (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 220).
2)      Menurut tinjauan kasus
Pengkajian dilakukan pada Ny. M didapatkan bahwa umurnya 21 tahun.
3)      Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori yang ada dengan kasus. Karena pasien termasuk dalam usia reproduksi wanita antara 20 sampai dengan 35 tahun.
b.   Keluhan
1)    Menurut teori
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa persalinan, misalnya kapan mulai terasa ada kenceng-kenceng di perut, bagaimana intensitasnya dan frekuensinya, apakah ada pengeluaran cairan dari vagina yang berbeda dari air kemih, apakah sudah ada pengeluaran lendir yang disertai darah, serta pergerakan janin untuk memastikan kesejahterahannya (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 221).
2)    Menurut tinjauan kasus
Pengkajian yang dilakukan pada Ny. M didapat bahwa pada tanggal 11 Oktober 2011 jam 05.00 WIB, ibu merasakan kenceng-kenceng yang kuat dan teratur, sudah mengeluarkan lendir bercampur darah dan cairan dari jalan lahir, gerakan janin masih dirasakan.
3)    Pembahasan
Pengkajian yang dilakukan pada Ny. M didapatkan gejala atau tanda yang sudah sesuai dengan teori. Sehingga pada data subyektif, gejala tentang tanda persalinan tidak ditemukan kesenjangan antara teori yang ada dengan kasus.
c.   Riwayat medis
1)    Menurut teori
Apakah ibu mengalami sakit kepala dan nyeri epigastrium dan riwayat penyakit lainya yang perlu ditanyakan adalah ibu mempunyai penyakit jantung, paru-paru, pernafasan, karena hal untuk mendeteksi adanya komplikasi pada persalinan (Rohani, 2011 ; h.82)
2)    Menurut tinjauan kasus
Ibu mengatakan saat ini sedang tidak mengalami sakit kepala dan sakit perut tapi ibu merasakan perutnya kenceng-kenceng karena akan melahirkan, ibu tidak sedang menderita penyakit yang menurun seperti jantung, DM, hipertensi, asma dan juga penyakit menular seperti TBC, hepatitis dan PMS.
3)    Pembahasan
Pada pengkajian pada Ny. M sudah dilakukan sesuai dengan teori sehingga tida ada kesenjangan yang terajadi antara teori dan lahan praktek.
d.   Riwayat obstetri
1)    Menurut teori
Pada riwayat haid ditanyakan tentang umur menarche, siklus menstruasi, teratur atau tidak menstruasinya, lama menstruasi, estimasi banyaknya darah, kurang lebih 2-3 pembalut/hari, 1 pembalut besar penuh kurang lebih 100 cc, 1 pembalut kecil penuh kurang lebih 30-50 cc. Warna darah, normalnya merah tua. Keluhan saat haid : pernah dismenorhea atau tidak, menderita pre menstruasi syndrome atau tidak. Flour albus, pada wanita normal terjadi sebelum dan sesudah haid, tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal, jumlah sedikit. Hari pertama haid terakhir untuk menentukan umur kehamilan.   (Ika Pantikawati dan Saryono, 2010; h. 115)
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu berisi tentang berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 134).
Riwayat kehamilan sekarang hal – hal yang perlu dikaji, antara lain : Umur kehamilan. ANC berapa kali, dimana, mendapatkan therapy, penyulit, keluhan. Imunisasi TT sudah atau belum (berapa kali). Ada kebiasaan – kebiasaan waktu hamil sekarang : Cara memasak (berpengaruh terhadap kadar gizi ibu). Minum jamu, merokok atau minum obat-obatan tertentu (Sulistyawati dan Esty, 2010, h. 222)
Gerakan janin yang dirasakan ibu diperlukan untuk mengkaji kesejahteraan janin (Helen Vaney, 2004)
2)    Menurut tinjauan kasus
a)    Haid
Menarche             : 12 tahun
Siklus                    : 28 hari
Lama                    : 6-7 hari
Banyak                 : sehari ganti pembalut 2-3 kali
Bau                       : khas darah/anyir
Warna                   : merah tua
Disminore             : tidak ada
Flour albuse    : mengalami keputihan sebelum dan sesudah menstruasi
HPHT                   : 22 Desember 2010
b)    Riwayat Kehamilan, Persalinan dan nifas yang lalu
Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama.

c)    Riwayat kehamilan sekarang
Ibu mengatakan hamil yang pertama, belum pernah melahirkan ataupun keguguran.
HPL : 29 September 2011
Riwayat ANC/TT : 10x di bidan/ 2x
Kebiasaan : tidak minum jamu, alkohol, merokok.
Gerakan janin : masih dirasakan.
3)    Pembahasan
Pada pengkajian riwayat obstatri yang dilakukan pada Ny. M tidak ditemukan kesenjangan antara teori yang ada dengan kasus.
e.    Psikososial spiritual
1)    Menurut teori 
Menanyakan langsung pada pasien mengenai bagaimana perasannya terhadap kehamilan dan kelahirannya. Mengetahui respon keluarga terhadap persalinan karena respon yang positif dari keluarga terhadap persalinan akan mempercepat proses adaptasi pasien menerima peran dan kondisinya.  Ketaatan beribadah dikaji untuk mengetahui apakah ibu taat dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang ibu dianut. (Ari sulistyawati dan Esty, 2010; h. 225)
2)    Menurut tinjauan kasus
Ibu merasa cemas dan kawatir dengan proses persalinannya, namun keluarga mendukung dan mengharapkan persalinan lancar serta ibu dan bayinya selamat. Ketaantan beribadah keluarga maupun ibu mengatakan rajin beribadah. Respon ibu dan keluarga terhadap persalinannya, ibu mengatakan dirinya dan keluarga sangat senang dan antusias dalam menyambut persalinannya.
3)    Pembahasan
Pengkajian psikososial spiritual yang dilakukan pada Ny. M tidak ditemukan kesenjangan antara teori yang ada dengan kasus.
2. Data Obyektif
a.   Tanda-tanda vital
1)    Menurut teori
Mengetahui keadaan umum ibu, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital yang terdiri dari tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan, berat badan ibu, tinggi badan ibu, lingkar lengan atas ibu (Ary Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 226). Kenaikan atau penurunan tekanan darah merupaka indikasi adnya gangguan hipertensi dalam kehamilan atau syok. Peningkatan suhu menunjukan adanya proses infeksi, syok atau dehidrasi. Peningkatan frekuensi pernafasan dapat menunjukan adanya syok (Rohani, 2011; h.83)
2)    Menurut tinjauan kasus
KU                   : Baik
Kesadaran       : Composmentis
TTV
TD                   : 110/90 mmHg           Suhu    : 36,3 0C
Nadi                 : 88x/menit                  RR       : 21x/menit
BB sekarang   : 60 kg                         BB sebelum hamil       : 51 kg
TB                    : 154 cm                      Lila                               : 26,5 cm
3)    Pembahasan
Berdasarkan pengkajian data yang didapatkan tidak ada kesenjangan antara teori yang ada dengan kasus, tanda-tanda vital dalam batas normal.
b.   Pemeriksaan abdomen
1)  Tanda bekas operasi
a)  Menurut teori
Tanda bekas operasi digunakan untuk melihat apakah ibu pernah mengalami SC atau tidak, sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya (Rohani 2011; h.84)
b)  Menurut tinjauan kasus
Pada Ny. M tidak ditemukan luka bekas operasi.
c)  Pembahasan
Berdasarkan pengkajian tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek, sehingga ibu bisa melahirkan secara normal.
2)  Pola kontraksi
a)    Menurut teori
Frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi harus dikaji secara akurat untuk menentukan status persalinan.

b)    Menurut tinjauan kasus
Kontraksi 4x/10 menit selama 30 detik, kuat dan teratur.
c)    Pembahasan
Menurut pengkajian lahan praktek sudah sesuai dengan yang ada dengan teori, sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan di lapangan.
3)    Pemeriksaan Leopold
a)    Menurut teori
Leopold I      : Untuk menentukan tinggi fundus    uteri dan bagian janin yang dibagian fundus. TFU diukur dengan menggunakan jari.
Leopold II      : Untuk menentukan apakah bagian punggung yang terletak dikiri atau dikanan perut ibu dan juga bagian-bagian kecil dari janin.
Leopold III      : Untuk menentukan bagian terbawah janin.
Leopold IV    : Untuk menentukan apakah bagian terbawah janin sudah masuk panggul atau belum, divergen atau konvergen.
TFU  : Tinggi Fundus Uteri (berapa cm manurut MC Donald)
( Ary Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 228)
b)    Menurut tinjauan kasus
Leopold I         :  teraba bagian bulat lunak dan tidak melenting  (bokong)
Leopold II   : kanan : teraba tahanan keras memanjang (punggung), kiri :  teraba bagian kecil-kecil janin (ekstremitas)
Leopold III  :  teraba bagian bulat keras dan sudah tidak bisa digoyangkan (kepala)
Leopold IV  :  bagian terbawah janin sudah masuk Pintu Atas Panggul (divergen)
TFU            :   30 cm
c)    Pembahasan
Pemeriksaan yang dilakukan di lahan sudah sesuai dengan teori sehingga tidak ada kesenjangan yang terjadi.
4)    DJJ
a)    Menurut teori
Dilakukan untuk mengetahui denyut jantung janin apakah normal atau tidak, DJJ dihitung 1 menit penuh, iramanya. Frekuensi DJJ normal adalah 120-160 kali per menit. ( Ary Sulistyawati dan Esty, 2010; h. 228)
b)    Menurut tinjauan kasus
DJJ : 138x/menit, irama teratur
c)    Pembahasan
Sesuai pengkajian yang dilakukan di lahan praktek sudah sesuai dengan teori yang dan tidak ada kesenjangan, DJJ dalam batas normal.
5)    Pemeriksaan dalam
a)    Menuru teori
Pemeriksaan dalam terdiri dari pembukaan serviks, station, letak, presentasi, posisi dan selaput ketuban. Pemeriksaan ini dilakukan setiap 4 jam sekali (Rukiyah, dkk.2009; h.76)
b)    Menurut tinjauan kasus
Serviks tidak odema, tidak ada tumor, pembukaan 4 cm, effacement 40 %, portio teraba tipis lunak, kulit ketuban (-), presentasi kepala, POD UUK, tidak ada bagian yang menumbung.
c)    Pembahasan
Pada pemeriksaan dalam terdapat kesenjangan, karena pada teori pemeriksaan ini dilakukan setiap 4 jam sekali, tapi di lahan ada pemeriksaan ke dua dilakukan dengan jarak waktu 3,5 jam dari pemeriksaan pertama, karena ibu sudah merasa ingin mengejan terus.
B.   Langkah II : Interpretasi data
          Mengidentifikasi diagnosa kebidanan atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar dari data-data yang telah dikumpulkan.
          Diagnosa kebidanan merupakan kesimpulan dari kondisi klien, diagnosa muncul didasari oleh pernyataan klien yang ada hubungannya dengan pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik dan data penunjang. Meliputi GPA, umur ibu, usia kehamilan dengan perhitungan minggu, janin tunggal/ganda, hidup/mati, intrauteri, letak janin membujur/melintang, letak punggung kanan/kiri, presentasi kepala/bokong, sudah masuk pintu atas panggul (PAP) atau belum (Sulistyowati dan Nugraheni, 2010;h.228).
          Masalah yaitu permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien, yang data dasarnya meliputi data subyektif : data yang diperoleh dari anamnesa, data obyektif : data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan. Kebutuhan segera untuk menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya (Sulistyowati dan Nugraheni, 2010;h.229).
1.   Kala I
a.   Menurut teori
Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan 0-10 cm (pembukaan lengkap). (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h.7)
b.   Tinjauan kasus
1)    Diagnosa kebidanan
Ny. M  G1P0A0, umur 21 tahun, hamil 42 minggu, janin tunggal hidup intra uteri, letak membujur, puka, presentasi kepala, kepala sudah masuk panggul dalam inpartu kala I fase aktif.
2)    Data dasar
a)    Data subyektif yang di dapat Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama, belum pernah melahirkan atau keguguran, Ibu mengatakan sekarang berusia 21 tahun, Ibu mengatakan HPHT tanggal 22 Desember 2010, Ibu mengatakan kenceng-kencengnya semakin bertambah kuat.
b)    Data obyektif yang didapat adalah pemeriksaan abdomen :
Leopold I                :teraba bagian bulat lunak dan tidak melenting (bokong) TFU : 30 cm,
Leopold II               :kanan : teraba tahanan keras memanjang (punggung), kiri :  teraba bagian kecil-kecil janin (ekstremitas),
Leopold III              :teraba bagian bulat keras dan sudah tidak bisa digoyangkan (kepala),
Leopold IV              :bagian terbawah janin sudah masuk Pintu Atas Panggul (divergen)
Penurunan kepala            : 3/5
DJJ     : 138x/menit
VT       : Vuvla/vagina tidak ada kelainan, portio tipis, Effesment 40 %, Pembukaan 4 cm, KK (-), tidak ada Molase, Point Of Direction : UUK, tidak ada bagian yang menumbung, presentasi belakang kepala, PPV lendir darah.
3)    Masalah
Cemas
Data dasar
a)    Data subyektif
Data dasar : ibu mengtakan merasa agak cemas dan takut menjelang proses persalinannya.

b)    Data obyektif
Ibu terlihat cemas.
4)    Kebutuhan
Mengajarkan teknik relaksasi kepada ibu
c.    Pembahasan
Interpretasi data pada kala I telah dilaksanankan sesuai teori yang ada dan tidak terdapat kesenjangan dalam pelaksanaannya.
2.    Kala II
a.    Menurut teori
Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h.7)
b.    Tinjauan kasus
1)    Diagnosa kebidanan
Ny. M G1P0A0 umur 21 tahun, usia kehamilan 42 minggu, janin tunggal hidup intra uteri letak membujur preskep puka  kepala sudah masuk panggul dalam inpartu kala 2.
2)    Data dasar
a)    Data subyektif yang didapat : ibu mengatakan mules semakin sering dan kuat, ibu mengatakan merasa ingin BAB dan sudah ingin meneran.
b)    Data obyetkif yang didapat adalah tampak keluar cairan dan lendir darah dari jalan lahir, ibu sudah merasa ingin meneran, terlihat ada tekanan pada anus, perineum tamapak menonjol, dan vulva tampak membuka, hasil VT : pembukaan lengkap, effacement 100%, porsio teraba lunak, KK (-), presentasi kepala, POD : UUK. His 5x/10 menit selama 50 detik, penurunan kepala 1/5, DJJ : 138x/menit.
3)    Masalah : Tidak ada
4)    Antisipasi : tidak ada
c.    Pembahasan
Interpretasi data pada kala II telah dilaksanankan sesuai teori yang ada dan tidak terdapat kesenjangan dalam pelaksanaannya.
3.   Kala III
a.    Menurut teori
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta. (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h.8)
b.    Tinjauan kasus
1)    Diagnosa kebidanan
Ny. M P1A0 umur 21 tahun dalam partus kala III.
2)    Data dasar
a)    Data subyektif didapatkan : ibu mengatakan perutnya masih terasa mules, ibu mengatakan merasa senang karena anaknya sudah lahir dengan selamat.
b)    Data obyektif : TFU setinggi pusat, kontraksi uterus keras, terlihat semburan darah dari jalan lahir, tali pusat bertambah panjang.

3)    Masalah : tidak ada
4)    Antisipasi : tidak ada
c.    Pembahasan
Interpretasi data pada kala III telah dilaksanankan sesuai teori yang ada dan tidak terdapat kesenjangan dalam pelaksanaannya.
4.   Kala IV
a.    Menurut teori
Pada Kala IV dilakukan observasi terhadap perdarahan pascapersalinan, paling sering terjadi pada 2 jam pertama. (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h.9)
b.    Tinjauan kasus
1)    Diagnosa kebidanan
Ny. M P1A0 umur 21 tahun dalam parus kala IV.
2)    Data dasar
a)    Data subyektif : ibu mengatakan merasa senang karena semua proses persalinannya berjalan lancar, ibu mengatakan perutnya masih merasa mules dan nyeri pada jalan lahir.
b)    Data obyektif : tampak ada robekan perineum pada derajat 2, plasenta lahir lengkapa tidak ada yang tertinggal, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi baik fundus teraba keras.
3)    Masalah : tidak ada
4)    Antisipasi : tidak ada

c.    Pembahasan
 Interpretasi data pada kala IV telah dilaksanankan sesuai teori yang ada dan tidak terdapat kesenjangan dalam pelaksanaannya.
C.   Langkah III : Mengidentifikasi Masalah atau Diagnosa Potensial
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 142).
Pada lahan praktek tidak muncul diagnosa potensial, karena dari pengkajian dan interpretasi data dari kala I sampai kala IV tidak terjadi perdarahan atau masalah-masalah lain yang dapat menghambat proses persalianan.
D.   Langkah IV : mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera.
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 143). Dalam kasus ini antisipasi tidak dilakukan karena tidak muncul diagnosa potensial.

E.    Langkah V : Perencanaan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau di antisipasi. Rencana asuahan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah di lihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi pasien tersebut yaitu apa yang akan terjadi berikutnya (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 143).
1.   Kala I
a.  Menurut teori
Perencanaan kala I :
1)      Memberitahukan ibu mengenai hasil pemeriksaan
2)      Memantau terus menerus tanda vital ibu dan kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf
3)      Memantau terus menerus keadaan bayi
4)      Memantau perubahan tubuh ibu untuk menentukan pakah persalinan dalam kemajuan yang normal
5)      Memeriksa perasaan ibu dan respon fisik terhadap persalinan
6)      Membantu ibu memahami apa yang sedang tarjadi sehingga ia berperan serta aktif dalam menentukan asuhan
7)      Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu selama persalinan
8)      Mengenali masalah secepatnya dan mengambil keputusan serta tindakan yang tepat guna dan tepat waktu
9)      Mengatur aktifitas dan posisi ibu
10)   Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his
11)   Menjaga privasi ibu
12)   Penjelasan tentang kemajuan persalinan
13)   Menjaga kebersihan diri
14)   Mengatasi rasa panas
15)   Pemberian cukup minum
16)   Memenuhi kebutuhan eliminasi ibu
17)   Sentuhan
18)   Persiapan persalinan normal (Rohani, Marisah, 2011; h. 93-95)
b.    Perencanan Kala I
1)    Beritahu ibu dan keluarga mengenai hasil pemeriksaan
2)    Pasang infuse RL 20 tpm
3)    Berikan asuhan sayang ibu
a)    Anjurkan suami dan keluarga untuk memberi dukungan dan semangat
b)    Anjurkan ibu untuk tetap mendapatkan asupan nutrisi selama bersalin
c)    Ajarakan ibu taknik relaksasi yang baik
d)    Anjurkan ibu berbaring miring ke kiri untuk mempercepat proses persalinan
4)    Cek alat yaitu partus set, heating set, perlengkapan ibu dan bayi.
5)    Lakukan pengawasan 10 kala I
c.    Pembahasan
Berdasarkan teori yang ada dan tindakan yang dilakukan di lahan terdapat kesenjangan, yaitu dalam teori tidak terdapat pemasangan infuse tatapi di lahan dilakukan pemasangan infuse untuk antisipasi dan intake cairan ibu karena ketuban sudah pecah sebelum pembukaan lengkap
2.    Kala II
a.    Menurut teori
Perencanaan Kala II sesuai teori :
1)    Melihat adanya tanda gejala kala II
2)    Menyiapkan pertolongan persalinan
3)     Penanganan bayi baru lahir.(Rohani, Marisah, 2011; h. L-9 – L-13)
b.    Tinjauan kusus
Perencanaan Kala II
1)    Pastikan tanda gejala kala II
2)    Siapkan partus set
3)    Gunakan APD
4)    Pimpin ibu mengejan saat ada his
5)    Siapkan untuk kelahiran bayi
6)    Lahirkan bayi
7)    Lakukan penilaian selintas
8)    Lakukan asuhan BBL

c.    Pembahasan
Pada perencanaan kala II tidak terdapat kesenjangan antara teori dan lahan praktik.
3.    Kala III
a.    Menurut teori
Perencanaan Kala III sesuai teori
1)    Penatalaksanaan aktif persalinan Kala III
2)    Mengeluarkan plasenta
3)    Rangsangan taktil (masase) uterus. (Rohani, marisah, 2011; h.L-13 – L-14)
b.    Tinjauan kasus
Perencanaan Kala III
1)    Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada janin lagi.
2)    Penyuntikan oksitosin, pemotongan dan pengikatan tali pusat
3)    Letakan bayi diatas perut ibu (IMD)
4)    Lahirkan plasenta
5)    Masase fundus uteri
c.    Pembahasan
Pada perencanaan kala III tidak terdapat kesenjangan antara teori dan lahan praktik.



4.    Kala IV
a.    Menurut teori
Perencanaan Kala IV sesuai teori
1)    Menilai perdarahan
2)    Melakukan prosedur pasca persalinan
3)    Evaluasi
4)    Kebersihan dan keamanan
5)    Dokumentasi. (Rohani, Marisah, 2011; h.L-14 – L-15)
b.    Tinjauan kasus
Perencanaan Kala IV
a)    Evaluasi robekan dan jahit laserasi
b)    Nilai ulang uterus
c)    Estimasi kehilangan darah
d)    Bersihkan alat
e)    Perawatan BBL
f)     Pemantauan 2 jam post partum
g)    Lengkapi partograf
c.    Pembahasan
Pada perencanaan kala IV tidak terdapat kesenjangan antara teori dan lahan praktik.



F.  Langkah VI : Pelaksanaan
1.   Menurut teori
Dalam langkah VI pelaksanaan dilakukan sesuai dengan perencanaan pada langkah sebelumnya secara efisien dan aman , perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi dilakukan oleh tim kesehatan lainnya (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.231-232).
2.    Menurut tinjauan kasus
Adapun pelaksanaan pada langkah V diuraikan sebagai berikut :
a.    Kala I
1)    Pelaksanaan Kala I pada tanggal 10 Oktober 2011 jam 05.00 WIB
a)    Memberitahu ibu mengenai hasil dari pemeriksaan. Bahwa sudah pembukaan 4 cm. Bagian terbawah janin adalah kepala dan sudah masuk pintu atas panggul.
b)    Memasang infuse RL 20 tpm untuk antisipasi dan intake cairan ibu, karena ketuban sudah pecah sebelum pembukaan lengkap.
c)    Memberikan asuhan sayang ibu
(1)  Menganjurkan suami dan keluarga untuk memberikan dukungan dan semangat pada ibu yaitu dengan mendampingi ibu, agar selama menghadapi proses persalinan ibu lebih tenang dan nyaman.
(2)  Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya agar ibu tetap punya  cadangan tenaga untuk menghadapi proses persalinan dan agar kontraksinya kuat. Yaitu dengan makan dan minum sesuai yang diinginkan ibu.
(3)  Mengajarkan ibu teknik relaksasi yang benar, yaitu bila ibu merasakan ada kontraksi yang kuat ibu tarik nafas panjang melalui hidung dan dikeluarka pelan-pelan melalui mulut, dan bila tidak ada kontraksi ibu dianjurkan untuk istirahat. Serta mengajarka keluarga untuk masase punggung untuk mengurangi nyeri punggung.
(4)  Menganjurkan ibu untuk berbaring miring ke kiri untuk lebih mempercepat proses persalinan yaitu penurunan kepala janin dan memperlancar aliran oksigen untuk ibu dan janin.
d)    Mengecek alat yaitu partus set, heating set, perlengkapan ibu dan bayi.
e)    Melakukan pengawasan  10 kala I yaitu: TD, nadi, suhu, respirasi, KU, DJJ, PPV, Bandle ring, kontraksi, tanda gejala kala II.
2)    Pembahasan
Pada pelaksanaan kala I terdapat kesenjangan pada pemeriksaan dalam, yang seharusnya dilakukan setiap 4 jam sekali, tetapi di lahan dilakukan dengan jarak pemeriksaan 3,5 jam dikarenakan ibu sudah menunjukan adanya tanda gejala kala 2 yaitu dorongan ingin meneran dan vulva sedikit membuka. Pasien juga dipasang infuse RL 20 tpm untuk antisipasi dan intake cairan karena saat datang ketuban ibu sudah pecah.
b.    Kala II
1)    Pelaksanaan Kala II pada tanggal 10 Oktober 2011 jam 08.45 WIB
a)    Memastikan tanda gejala kala 2, seperti ada dorongan meneran, teknan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka.
b)    Memastikan kelengkapan obat dan alat, seperti: obat uterotonika, pertus set, heating set, perlengkapan ibu dan bayi.
c)    Memakai APD berupa clemek, sandal dan handscoon.
d)    Melakukan pimpinan persalinan saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran dan membiarkan ibu istirahat di sela-sela kontraksi serta menilai DJJ disela-sela kontraksi
e)    Menyiapkan untuk kelahiran bayi dengan memasang handuk bersih diatas perut ibu dan kain 1/3 dibawah bokong ibu
f)     Melahirkan bayi mulai dari kepala, bahu, badan sampai kaki bayi sesuai teknik yang benar.
g)    Melakukan penilaian selintas pada bayi yang meliputi pernafasan, menangis kuat atau tidak dan tonus otot.
h)    Melakukan penanganan bayi asfiksi dengan membersihkan jalan nafas bayi dengan menyedotnya menggunakan slaimseker, melakukan rangsangan taktil pada bayi, yaitu dengan menepuk-nepuk punggung dan telapak kaki bayi sampai bayi menangis. Memberikan oksigen untuk membantu pernafasan bayi supaya lebih lancar.
i)      Melakukan asuhan bayi baru lahir dengan mengeringkan badan bayi agar tidak terjadi hipotermi dan mengganti handuk basah dengan handuk kering
2)    Pembahasan
Pada kala II terdapat beberapa kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan, yaitu dalam hal pemakaian APD, yang seharusnya menggunakan APD lengkap (sepatu boot, topi, masker, clemek, kaca mata, handscoon), sedangkan dilahan hanya menggunakan clemek, sandal dan handscoon. Dalam pelaksanaan juga dilakukan penanganan bayi asfiksi karena ketika bayi lahir mengalami asfiksia ringan sedangkan diperencanaan tidak ada.
c.    Kala III
1)    Pelaksanaan Kala III dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2011 jam 09.16 WIB
a)    Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada janin lagi.
b)    Menyuntikan oksitosin 10 IU IM pada 1/3 paha atas ibu bagian lateral, merapikan tali pusat yang sudah dipotong dan mengikat tali pusat dengan benang DTT.
c)    Meletakan bayi ditempat yang hangat dan kering, karena bayi mengalami asfiksia ringan sehingga dilakukan pembersihan jalan nafas dan rangsangan taktil pada bayi serta diberikan oksigen beberapa saat sampai bayi dapat bernafas spontan.
d)    Melahirkan plasenta dengan cara penegangan tali pusat terkendali
e)    Masase fundus uteri untuk memastikan kontraksi tetap bagus agar tidak terjadi perdarahan.
2)    Pembahasan
Pada pelaksanaan kala III terdapat kesenjangan yaitu tidak dilakukan IMD setelah bayi lahir seharusnya segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat, bayi diletakan tengkurap di dada ibu dengan kulit bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusui sendiri apabila sebelumnya tidak berhasil (JNPK-KR, 2008;h.127), sedangkan dilahan tidak dilakukan IMD karena saat bayi lahir bayi mengalami asfiksia ringan.
d.    Kala IV
1)    Pelaksanaan Kala IV pada tanggal 10 Oktober 2011 jam 09.31 WIB
a)  Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum, dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
b)  Menilai ulang uterus dan memastikan kontraksinya tetap baik, serta mengevaluasi perdarahan pervaginam.
c)  Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
d)  Membersihkan peralatan dengan merendam peralatan dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit, membuang sambah bekas pakai sesuai jenisnya
e)  Melakukan perawatan bayi baru lahir pada satu jam pertama kelahiran dengan menyuntikan vit.K pada paha kiri antero lateral, memberikan salep mata, serta melakukan antropometri. Pada 1 jam kedua kelahiran diberikan imunisasi Hb0 pada paha kanan.
f)   Melakukan pemantauan 2 jam post partum dengan memeriksa nadi ibu, tekanan darah, kandung kemih, kontraksi serta pengeluaran darah setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 1 jam kedua pasca persalinan
g)  Melengkapi dokumentasi partograf
2)    Pembahasan
Untuk pelaksanaan pada kala IV tidak terdapat kesenjangan antara perencanaan yang ada dengan pelaksanaan.
G.   Langkah VII : Evaluasi
1.    Menurut teori
Pada langkah ini evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang di berikan kepada pasien (Ari Sulistyawati dan Esty, 2010; h.233).
2.    Tinjauan kasus
Pada jam 09.15 WIB bayi lahir spontan, bayi tidak menangis, gerakan tidak aktif, warna kulit pada ekstrimitas pucat, jenis kelamin laki-laki, BB : 2800 gr, PB : 49 cm, LD/LK : 33/34 cm, tidak ada caput sucsadenium, tidak ada cacat bawaan, tidak ada hematom, lubang anus (+), APGAR Score : 6/8/10, TFU setinggi pusat, kontraksi baik, tidak dilakukan IMD karena pada saat bayi lahir mengalami asfiksia ringan. Pada pengawasan 2 jam post partum semuanya normal, TD dan suhu normal, kontraksi baik (keras), tidak terjadi perdarahan, infolusi uteri normal.
3.    Pembahasan
Dalam asuhan kebidanan yang dilakukan pada Ny. M telah dilakukan sesuai dengan teori yang sudah ada , sehingga menghasilkan asuhan kebidanan yang efektif dan memberikan hasil yang optimal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar